DETAIL KOLEKSI

Analisis terhadap transformasi karya cipta sinematografi menjadi konten pada media sosial berdasarkan undang-undang hak cipta no. 28 tahun 2014 (studi kasus: ftv jasa fotocopy keliling)


Oleh : Hasna Andriyani

Info Katalog

Penerbit : FH - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2026

Pembimbing 1 : Rr Aline Gratika Nugrahani

Kata Kunci : Keywords: Copyright, Cinematography, Social Media, Transformation of Creative Works Cipta

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2026_SK_SHK_010002200154_Halaman-Judul.pdf
2. 2026_SK_SHK_010002200154_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2026_SK_SHK_010002200154_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2026_SK_SHK_010002200154_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2026_SK_SHK_010002200154_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2026_SK_SHK_010002200154_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2026_SK_SHK_010002200154_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2026_SK_SHK_010002200154_Bab-1.pdf
9. 2026_SK_SHK_010002200154_Bab-2.pdf
10. 2026_SK_SHK_010002200154_Bab-3.pdf
11. 2026_SK_SHK_010002200154_Bab-4.pdf
12. 2026_SK_SHK_010002200154_Bab-5.pdf
13. 2026_SK_SHK_010002200154_Daftar-Pustaka.pdf 8
14. 2026_SK_SHK_010002200154_Lampiran.pdf

P Perkembangan teknologi dan media digital tidak hanya menjadi wadah untuk berkomunikasi saja tetapi bisa menjadi wadah untuk mengekspresikan suatu karya. karya yang semula disajikan melalui televisi kini dapat juga diakses melalui media sosial, sehingga melahirkan transformasi karya seperti remake dan parodi. transformasi pada suatu karya mendapatkan perlindungan pada hak cipta. film televisi (ftv) merupakan salah satu objek yang dilindungi oleh hak cipta yang diatur dalam undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta (uuhc 2014) yang disebut sebagai karya sinematografi. penelitian ini dilakukan dengan metode yuridis normatif dan menggunakan data sekunder serta data primer guna menunjang keberadaan data primer serta analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kulitatif. dapat disimpulkan bahwa transformasi ftv menjadi konten media sosial yang dilakukan konten kreator vicky kalea atas parodi “jasa fotocopy keliling” secara normatif melanggar pasal 9 uuhc 2014 karena merupakan pembentukan karya turunan (derivative works) yang wajib mendapatkan izin dari pemegang hak cipta. konten “jasa bikin anak keliling” tersebut juga terbukti melanggar hak ekonomi, hak moral, dan hak merek dari indosiar sebagai pemegang hak cipta ftv “jasa fotocopy keliling” dan juga secara moral melanggar integritas ciptaan sebagaimana diatur dalam pasal 5 uuhc 2014 karena merubah pesan religi menjadi konten vulgar. mengingat tingginya dinamika konten digital, maka perlu adanya pengawasan digital dan pedoman khusus mengenai batasan parodi yang sah (fair use for parody) agar terdapat parameter yang jelas antara kritik seni yang edukatif dengan eksploitasi karya yang bersifat merugikan (infringemen perkembangan teknologi dan media digital tidak hanya menjadi wadah untuk berkomunikasi saja tetapi bisa menjadi wadah untuk mengekspresikan suatu karya. karya yang semula disajikan melalui televisi kini dapat juga diakses melalui media sosial, sehingga melahirkan transformasi karya seperti remake dan parodi. transformasi pada suatu karya mendapatkan perlindungan pada hak cipta. film televisi (ftv) merupakan salah satu objek yang dilindungi oleh hak cipta yang diatur dalam undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta (uuhc 2014) yang disebut sebagai karya sinematografi. penelitian ini dilakukan dengan metode yuridis normatif dan menggunakan data sekunder serta data primer guna menunjang keberadaan data primer serta analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kulitatif. dapat disimpulkan bahwa transformasi ftv menjadi konten media sosial yang dilakukan konten kreator vicky kalea atas parodi “jasa fotocopy keliling” secara normatif melanggar pasal 9 uuhc 2014 karena merupakan pembentukan karya turunan (derivative works) yang wajib mendapatkan izin dari pemegang hak cipta. konten “jasa bikin anak keliling” tersebut juga terbukti melanggar hak ekonomi, hak moral, dan hak merek dari indosiar sebagai pemegang hak cipta ftv “jasa fotocopy keliling” dan juga secara moral melanggar integritas ciptaan sebagaimana diatur dalam pasal 5 uuhc 2014 karena merubah pesan religi menjadi konten vulgar. mengingat tingginya dinamika konten digital, maka perlu adanya pengawasan digital dan pedoman khusus mengenai batasan parodi yang sah (fair use for parody) agar terdapat parameter yang jelas antara kritik seni yang edukatif dengan eksploitasi karya yang bersifat merugikan (infringement), sehingga mampu membatasi konten kreator digital dalam menggunakan elemen karya milik pihak lain), sehingga mampu membatasi konten kreator digital dalam menggunakan elemen karya milik pihak lain.

T The development of technology and digital media is not only a means of communication but can also be a means to express a work. works that were originally presented through television can now also be accessed through social media, thus giving birth to transformations of works such as remakes and parodies. transformations in a work are protected by copyright. television films (ftv) are one of the objects protected by copyright as regulated in law number 28 of 2014 concerning copyright (uuhc 2014) which are referred to as cinematographic works. this research was conducted using a normative juridical method and used secondary data and primary data to support the existence of primary data and the analysis used in this study is qualitative data analysis. it can be concluded that the transformation of ftv into social media content carried out by content creator vicky kalea for the parody \\\"jasa fotocopy keliling\\\" normatively violates article 9 of the 2014 uuhc because it is the creation of derivative works that must obtain permission from the copyright holder. the content of “jasa bikin anak keliling” is also proven to violate the economic rights, moral rights, and trademark rights of indosiar as the copyright holder of the ftv “jasa fotocopy keliling” and also morally violates the integrity of creation as regulated in article 5 of the 2014 uuhc because it changes religious messages into vulgar content. considering the high dynamics of digital content, it is necessary to have digital supervision and specific guidelines regarding the limits of legitimate parody (fair use for parody) so that there are clear parameters between educational art criticism and exploitation of works that are detrimental (infringement), so as to be able to limit digital content creators in using elements of works belonging to other parties.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?