Pengukuran ekuitas merek terhadap produk vetsin ajinomoto
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Pembimbing 1 : Dorina Hetharia
Subyek : Brand name products - Management;Marketing - Management;Industrial engineering;Production control
Kata Kunci : brand equity, MSG products, Ajinomoto
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2003_TA_STI_06399092_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2003_TA_STI_06399092_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-4_Pengumpulan-dan-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-5_Analisa.pdf |
|
|
| 8. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-6_Usulan-Strategi-Peningkatan-Ekuitas-Merek.pdf |
|
|
| 9. | 2003_TA_STI_06399092_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 10. | 2003_TA_STI_06399092_Daftar-Pustaka.pdf | 2 | |
| 11. | 2003_TA_STI_06399092_Lampiran.pdf |
|
U Untuk bertahan di posisi deretan atas dalam dunia industri diakui cukup sulit karena semakin banyalawa pesaing yang memiliki kualitas yang baik, demikian pula halnya yang terjadi dalam dunia bumbu masak. Terdapat beberapa nama merek yang sudah besar bahkan melegenda dan juga terdapat repacker yang kian mengganggu merek-merek besar. Tentunya kekuatan merek diperlukan untuk memperkuat nama merek dibenak konsumen dan akhirnya memenangkan persaingan. Pada penelitian ekuitas merek ini digunakan alat bantu kuesioner dengan metode pengambilan sampel secara convenience sampling dan quota sampling. Dari kuesioner ini didapatkan data yang kemudian diolah dengan menggunakan pengujian statistik seperti pengujian statistik deskriptif yang meliputi mean, frekuensi, standar deviasi dan juga menggunakan pengujian statistik non parametrik yaitu uji Cochran. Pengolahan data menghasilkan tingkat brand awareness, pada Top Of Mind peringkat kedua, brand recall dan recognition tingkat pertama dan tidak ada yang tidak mengenal merek Ajinomoto ini. Tempat pembelian paling banyak berlokasi di waning sekitar rumah. Pertimbangan atributnya berturut-turut dari yang paling penting terbuat dari bahan yang alami (4.28), halal (4.13), gurih (3.97), kemudahan dalam mendapatkan dan membeli produk (3.88) ,variasi berat/kemasan (3,83), merek vetsin yang biasa digunakan (3.7), merek yang terkenal (3.48), harga yang terjangkau (3.43), sedikit dalam pemakaian (3.4), hadiah/promosi (3.25). Pada brand association didapatkan asosiasi yang paling utama, yang membentuk brand image adalah gurih, merek yang terkenal, kemudahan dalam mendapatkan dan membeli produk dan harga yang terjangkau. Sedangkan asosiasi merek vetsin yang biasa digunakan, terbuat dari bahan alami, hadiah/promosi, halal, variasi berat/kemasan, sedikit dalam pemakaian tidak selalu diasosiasikan responden sebagai karakteristik. Pada perceive quality nilai rata-rata Ajinomoto unggul dibandingkan pesaingnya. Untuk brand loyalty pada switcher terdapat 16% responden yang berpindah karena faktor harga, habitual buyer terdapat 51% responden yang membeli vetsin Ajinomoto karena kebiasaan, selanjutnya satiefied buyer 56% responden yang menemukan kepuasan, 34% liking the brand dan pada commited buyer didapatkan hasil responden jarang atau tidak pernah merekomendasikan vetsin merek Ajinomoto. Pada perpindahan merek terdapat 40 orang yang menjawab akan berpindah merek, terdapat 28 responden dengan alasan "ada bumbu penyedap yang lebih lengkap seperti masako, royco", dengan demikian lebih dari separuh responden yang berpindah dikarenakan adanya penyedap bumbu yang lebih lengkap. Sumber informasi paling banyak adalah melalui televisi dengan jumlah 92 Usulan-usulan stategi yang diajukan adalah repositioning, pada strategi pemasaran, dan 4P pada strategi bauran pemasaran.
M Maintaining a top position in the industry is acknowledged to be difficult due to the growing number of high-quality competitors; this is certainly true in the cooking seasoning sector. The market features major, even legendary, brands alongside repackers who increasingly challenge these established names. Naturally, brand strength is essential to solidify the brand's image in consumers' minds and ultimately win the competitive battle. This study on brand equity utilized questionnaires, employing both convenience and quota sampling methods. The data obtained were analyzed using statistical tests, including descriptive statistics (mean, frequency, and standard deviation) and non-parametric analysis (Cochran's test). The analysis revealed the brand's standing: it ranked second in "Top of Mind" awareness and achieved top-tier status in both brand recall and recognition, with universal brand awareness. The most common purchase locations were local neighborhood shops (*warung*). In terms of attribute importance, the ranking was as follows: made from natural ingredients (4.28), Halal certification (4.13), savory taste (3.97), ease of availability/purchase (3.88), variety of weights/packaging (3.83), familiarity/habitual use (3.7), brand fame (3.48), affordable price (3.43), low usage quantity (3.4), and gifts/promotions (3.25). Regarding brand associations, the primary factors shaping the brand image were savory taste, brand fame, ease of availability/purchase, and affordability. Conversely, attributes such as habitual use, natural ingredients, gifts/promotions, Halal status, packaging variety, and low usage quantity were not consistently identified by respondents as defining characteristics. In terms of perceived quality, Ajinomoto achieved a higher average score than its competitors. Regarding brand loyalty, 16% of respondents were "switchers" who changed brands due to price factors; 51% were "habitual buyers" who purchased Ajinomoto MSG out of habit; and among "satisfied buyers," 56% found satisfaction while 34% liked the brand. For "committed buyers," results showed that respondents rarely or never recommended the Ajinomoto brand. Regarding brand switching, 40 individuals indicated an intention to switch; of these, 28 cited the availability of seasonings with a more complete flavor profile—such as Masako or Royco—as the reason, meaning that more than half of those switching did so because of these more comprehensive seasoning products. Television was the most common source of information, cited by 92 respondents. Proposed strategies include repositioning within the marketing strategy and applying the 4Ps framework within the marketing mix strategy.