DETAIL KOLEKSI

Kajian yuridis netralitas anggota tni/polri dalam pilkada pasca putusan mk no 136/puu-xxii/2024


Oleh : Diandra Salsabila Faradiba Z

Info Katalog

Penerbit : FH - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2026

Pembimbing 1 : Tri Sulistyowati

Kata Kunci : Neutrality, Regional Autonomy, TNI/POLRI, Regional Head Elections (Pilkada).

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2026_SK_SHK_010002100515_Halaman-Judul.pdf 9
2. 2026_SK_SHK_010002100515_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2026_SK_SHK_010002100515_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2026_SK_SHK_010002100515_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2026_SK_SHK_010002100515_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2026_SK_SHK_010002100515_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2026_SK_SHK_010002100515_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2026_SK_SHK_010002100515_Bab-1.pdf 14
9. 2026_SK_SHK_010002100515_Bab-2.pdf 21
10. 2026_SK_SHK_010002100515_Bab-3.pdf 17
11. 2026_SK_SHK_010002100515_Bab-4.pdf 26
12. 2026_SK_SHK_010002100515_Bab-5.pdf 2
13. 2026_SK_SHK_010002100515_Daftar-Pustaka.pdf 4
14. 2026_SK_SHK_010002100515_Lampiran.pdf 1

N Netralitas tni dan polri merupakan salah satu syarat penting dalam mewujudkan pilkada yang demokratis. sebelum putusan mahkamahkonstitusi nomor 136/puu-xxii/2024, masih terdapat berbagai bentuk keterlibatan anggota tni dan polri dalam pilkada, baik secaralangsung maupun tidak langsung. selain itu, ketentuan mengenai sanksi pidana terhadap pelanggaran netralitas belum memberikankepastian hukum yang jelas bagi anggota tni dan polri.permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk keterlibatan anggota tni/polri dalampilkada sebelum putusan mk nomor 136/puu-xxii/2024 serta bagaimana implikasi hukum terhadap netralitas tni/polri pasca putusan mk nomor 136/puu-xxii/2024. dengan menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan konseptual, yang dianalisis secara kualitatif dan penarikan kesimpulan secara deduktif, maka diperoleh kesimpulan bahwa sebelum adanya putusan tersebut, pelanggaran netralitas lebih banyak diselesaikan melalui mekanisme internal institusi. setelah putusan mahkamah konstitusi nomor 136/puu-xxii/2024, anggota tni dan polri secara tegas dapatdikenakan sanksi pidana apabila melanggar ketentuan netralitas dalam pilkada. putusan ini memberikan kepastian hukum, memperkuat penegakan hukum, serta mendukung pelaksanaan pilkada yang jujur, adil, dan demokratis.

T The neutrality of the indonesian national armed forces (tni) and the indonesian national police (polri) is one of the essential requirements for ensuring democratic regional head elections (pilkada). prior to the constitutional court decision number 136/puu-xxii/2024, various forms of involvement by tni and polri personnel in pilkada occurred, either directly or indirectly. in addition, the legal provisions governing criminal sanctions for violations of neutrality had not provided clear legal certainty for members of the tni and polri.this study aims to examine the forms of involvement of tni and polri personnel in pilkada prior to constitutional court decision number 136/puu-xxii/2024 and to analyze the legal implications of the decision for the neutrality of tni and polri in regional head elections. this research employs a normative juridical method using a statutory approach and a conceptual approach. the collected legal materials are analyzed qualitatively, and conclusions are drawn using a deductive method.the findings indicate that, prior to the constitutional court decision, violations of neutrality were predominantly resolved through internal institutional mechanisms. following constitutional court decision number 136/puu-xxii/2024, members of the tni and polri can explicitly be subjected to criminal sanctions if they violate the neutrality provisions in regional head elections. the decision provides greater legal certainty, strengthens law enforcement, and supports the implementation of regional head elections that are fair, honest, and democratic.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?