Usulan perbaikan kualitas dengan menggunakan metode six sigma pada bagian produksi di CV. Ardi Putra Sejati
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2004
Pembimbing 1 : Dedy Sugiarto
Subyek : Production control;Six sigma (Quality control standard);Quality control - Product
Kata Kunci : quality improvement, Six Sigma method, production, CV Ardi Putra Sejati
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2004_TA_STI_06300058_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2004_TA_STI_06300058_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-5_Pengolahan-Data-Dan-Analisa.pdf |
|
|
| 8. | 2004_TA_STI_06300058_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 9. | 2004_TA_STI_06300058_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 10. | 2004_TA_STI_06300058_Lampiran.pdf |
|
C CV. Ardi Putra Sejati adalah salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang garment, yang memproduksi berbagai macam jenis pakaian sesuai dengan pesanan pelanggan. Sampai saat ini produk yang diproduksi antara lain pakaian kemeja pria, kemeja wanita, seragam kantor, seragam hansip dan lain-lain. Dengan adanya persaingan yang semakin berat khususnya di bidang garment, membuat CV. Ardi Putra Sejati merasa perlu untuk meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkannya agar dapat diminati konsumen sehingga perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan sejenis lainnya. Untuk dapat terus bertahan, perusahaan harus dapat meminimasi jumlah cacat dari produk yang dihasilkan. Karena itu perusahaan mencoba untuk menerapkan metode Six Sigma untuk dapat meningkatkan kualitas suatu produk. Program peningkatan kualitas dengan menggunakan metode Six Sigma terdiri dari beberapa tahap yaitu Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC). Tahap Define merupakan tahap awal dimana dilakukan pendefinisian produk yang akan ditingkatkan yaitu pakaian kemeja pria. Pada tahap Measure akan ditentukan CTQ-nya yaitu, salah pasang kancing, buang benang (trimming), kotor, jahitan tidak rapi, rajutan tidak rapi, salah potong dan kain belang. Setelah itu dilakukan perhitungan kapabilitas proses dan level sigma dimana didapatkan level sigma sebesar 3,69 dengan nilai DPMO sebesar 14.130. Pada tahap Analyze dilakukan brainstorming dengan pihak perusahaan untuk membuat Cause Effect Diagram dan FMEA. Dari hasil FMEA dapat diketahui bahwa penyebabnya adalah perawatan dan pemeriksaan mesin beserta spare part-nya, penyettingan ukuran jahit, pimilihan bahan yang tidak tepat, dan tenaga kerja yang tidak teliti. Tahap selanjutnya adalah tahap Improve, yaitu suatu tahap dimana dilakukan perbaikan terhadap masalah yang ada dengan menggunakan metode 5W-2H, dimana pada tahap ini diusulkan suatu instruksi kerja dalam proses produksi untuk memperbaiki proses kerja yang berlangsung. Pada tahap Control dilakukan implementasi dan pengukuran kembali kapabilitas proses dan level sigma dimana terjadi peningkatan dari 3,69 menjadi 3,87 dengan nilai DPMO menurun dari 14.130 menjadi 8.816. Sedangkan untuk biaya yang dikeluarkan perusahaan karena kualitas yang buruk (COPQ) mengalami penurunan dari Rp.527.293,00 menjadi Rp.165.818,00. Dari hasil mplementasi juga dapat diketahui bahwa terjadi penurunan tingkat proporsi cacat untuk total cacat. Proporsi cacat sebelum implementasi adalah sebesar 0,0922 dan setelah implementasi dilakukan menjadi 0,05908
C CV. Ardi Putra Sejati is a garment manufacturing company that produces various types of clothing based on customer orders. Its current product range includes men's and women's shirts, office uniforms, civil defense (Hansip) uniforms, and others. Faced with increasingly intense competition in the garment industry, CV. Ardi Putra Sejati recognizes the need to enhance product quality to attract consumers and remain competitive against similar enterprises. To ensure long-term viability, the company must minimize the number of product defects. Consequently, the company is implementing the Six Sigma method to improve product quality. This quality improvement program follows the Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC) framework. The "Define" phase marks the initial stage, where the specific product targeted for improvement—men's shirts—is identified. During the "Measure" phase, Critical-to-Quality (CTQ) parameters are established, covering issues such as incorrect button placement, loose threads (trimming), stains, untidy stitching, poor knitting, cutting errors, and fabric discoloration. Subsequently, process capability and sigma levels are calculated, yielding a sigma level of 3.69 and a DPMO value of 14,130. In the "Analyze" phase, brainstorming sessions with company personnel are conducted to develop Cause-and-Effect Diagrams and Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). The FMEA results identify the root causes as issues with machine and spare part maintenance and inspection, sewing size settings, improper material selection, and lack of precision among the workforce. The next stage is "Improve," where existing problems are addressed using the 5W-2H method; this phase involves proposing new work instructions to optimize the ongoing production process. During the Control phase, implementation and re-measurement of process capability and sigma levels were carried out; the sigma level improved from 3.69 to 3.87, while the DPMO value decreased from 14,130 to 8,816. Meanwhile, the Cost of Poor Quality (COPQ) incurred by the company dropped from Rp527,293.00 to Rp165,818.00. The implementation results also revealed a reduction in the proportion of defects; the defect proportion fell from 0.0922 prior to implementation to 0.05908 afterward.