Usulan struktur gaji dasar menggunakan metode point system di PT. Indo Visual Presentatama
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Pembimbing 1 : Tri Wulandari Sd
Subyek : Corporations - Management;Wage payment systems
Kata Kunci : basic salary structure, point system method, at PT. Indo Visual Presentatama
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2003_TA_STI_06398241_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2003_TA_STI_06398241_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-4_Pengumpulan-dan-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-5_Analisa-Data.pdf |
|
|
| 8. | 2003_TA_STI_06398241_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 9. | 2003_TA_STI_06398241_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 10. | 2003_TA_STI_06398241_Lampiran.pdf |
|
P PT Indo Visual Presentatama adalah perusahaan swasta yang bergerak dibidang jasa supplier proyektor. PT Indo Visual Presentatama tidak hanya menjual tetapi juga menyewakan kepada konsumen. Masalah yang sering timbul dalam perusahaan sehubungan dengan SDM adalah ketidakpuasan pekerja atas sistem kompensasi yang diterapkan. Untuk itu perlu dilakukan penyusunan suatu sistem kompensasi yang barn dan transparan serta dimengerti oleh pekerja. Penyusunan struktur gaji dasar melalui dua tahapan. Pertama analisa jabatan yang diawali dengan pembentukan komite penilai. Komite ini terdiri dari orang-orang yang sangat memahami seluk beluk perusahan. Kemudian bersama-sama komite penilai, menentukan jabatan yang akan dianalisa dan menyusun kuesioner analisa jabatan. Dan pengisian kuesioner analisa jabatan oleh setiap pemegang jabatan, diperoleh data-data dan informasi mengenai 37 karyawan di PT Indo Visual Presentatama yang kemudian dikonsultasikan dengan atasan langsung dan diperoleh uraian dan spesifikasi jabatan. Kedua evaluasi jabatan dengan menggunakan metode point system yang didahului dengan menentukan faktor dan sub faktor jabatan. Faktor-faktor yang digunakan adalah faktor kemampuan dan ketrampilan, terdiri dari 8 subfaktor, yaitu subfaktor kemampuan inisiatif dan kreatifitas, berkomunikasi, pengambilan keputusan, melakukan analisa, melakukan koordinasi kerja, berhitung, dan menggunakan peralatan kerja, beradaptasi. Faktor usaha, terdiri dari 2 subfaktor, yaitu subfaktor usaha fisik dan mental. Faktor tanggung jawab, terdiri dari 8 subfaktor, yaitu subfaktor tanggung jawab dalam hal pemberian pengawasan, menerima pengawasan, ketelitian kerja administrative, keuangan dan surat berharga, alat-alat dan mesin-mesin, mengadakan kontak social, kerahasiaan perusahan dan metode kerja. Faktor kondisi dan lingkungan kerja, terdiri dari 4 subfaktor, yaitu tempat kerja, resiko bahaya/kecelakaan, frekuensi kelja lembur dan perjalanan dinar. Faktor pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja, terdiri dari 3 subfaktor, yaitu subfaktor syarat minimal pendidikan dasar dan yang dipersyaratkan, pelatihan dan pengalaman kerja. Faktor dan sub factor jabatan yang telah dirumuskan, didefinisikan sehingga diperoleh kesatuan maksud dari semua responden kuesioner. Sub factor jabatan yang ada dalam factor jabatan mempunyai kadar yang berbeda-beda, sehingga untuk mengidentifikasikannya dinyatakan dalam suatu derajat atau tingkatan lain menyusun dan menyebarkan kuesioner penentuan bobot factor dan sub factor pada komite penilai. Setelah itu ditentukan bobotnya dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan. Dari hasil pembobotan diperoleh bobot faktor kemampuan dan ketrampilan (0.2370), fah-tor usaha (0.1263), faktor tanggung jawab (0.3065), faktor kondisi dan lingkungan kerja (0.0503), serta faktor Pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja (0.2799). Penentuan nilai derajat sub faktor dilakukan dengan mengalikan bobot sub fak-tor yang dinyatakan dalam bentuk persentase. dikalikan dengan 10000 dan didapatkan NRJ. Kemudian NRJ tersebut diurutkan dari yang tertinggi sampai terendah. NRJ tertinggi adalah jabatan Direktur Eksekutif (9401) dan NRJ terendah adalah jabatan office boy (2327). NRJ inilah yang dijadikan dasar dalam penyusunan struktur gaji dasar. Untuk menghitung gaji dari setiap jabatan menggunakan dua cara. Pertama dengan konstanta pengali yaitu dengan menghitung indeks dari masing-masing jabatan dengan cara membagi jumlah anggaran gaji lama dengan jumlah seluruh NRJ. indeks ini merupakan besarnya nilai rupiah per poin dari NRJ. Selanjutnya gaji diperoleh dari perkalian antara NRJ dengan indeks. Setelah didapatkan gaji dasar per jabatan, dilakukan penyesuaian agar didapatkan struktur gaji dasar yang mendekati tingkat gaji yang ada sekarang. Penyesuaian ini dilakukan dengan cara mengalikan besamya gaji dasar yang didapat terhadap faktor pengali. Faktor pengali ini didapatkan dari hasil diskusi dengan komite penilai. Bila ada gaji dasar jabatan yang mengalarni penurunan maka yang digunakan adalah gaji dasar awal. Dan bila kurang dari UMP, akan disesuaikan dengan UMP yang berlaku saat ini yaitu dengan cara menambahkan semua gaji per jabatan dengan besamya kekurangan gaji yang seharusnya diterima jabatan yang kurang dari UMP. Kedua adalah interpolasi linier yaitu dengan menggunakan tingkat perbandingan antara gaji dasar terendah dengan tertinggi dan NRJ dari masing-masing jabatan. Berdasarkan kriteria pemilihan gaji dasar. maka usulan yang dapat diterapkan perusahaan adalah usulan struktur gaji dasar berdasarkan NRJ dan factor pengali dengan gaji tertinggi Direktur Eksekutif (Rp 9,887,646) dan gaji terendah Office Boy (Rp 631,554). Dana yang biasa dikeluarkan perusahaan untuk membayar gaji dasar seluruh karyawan adalah sebesar Rp 151,989,000. Sedangkan untuk menerapkan usulan struktur gaji dasar ini, perusahaan perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 200,023,666. Dengan kata lain perusahaan perlu menambahkan dana sebesar Rp 48,034,666 (32%). Dana ini masih memenuhi batas kemampuan dari perusahaan (40%).
P PT Indo Visual Presentatama is a private company engaged in projector supplier services. PT Indo Visual Presentatama not only sells but also rents to consumers. A frequent problem in companies related to HR is employee dissatisfaction with the implemented compensation system. Therefore, it is necessary to develop a new, transparent compensation system that is understandable to employees. The basic salary structure is prepared through two stages. First, job analysis begins with the formation of an assessment committee. This committee consists of people who are very familiar with the ins and outs of the company. Then, together with the assessment committee, determine the positions to be analyzed and compile a job analysis questionnaire. And the job analysis questionnaire filled out by each job holder, obtained data and information regarding 37 employees at PT Indo Visual Presentatama which was then consulted with their direct superiors and obtained job descriptions and specifications. Second, job evaluation uses the point system method which is preceded by determining the factors and sub-factors of the position. The factors used are the ability and skills factor, consisting of 8 subfactors, namely the subfactors of initiative and creativity, communication, decision-making, analysis, work coordination, calculation, and use of work equipment, adaptation. The effort factor, consisting of 2 subfactors, namely the physical and mental effort subfactors. The responsibility factor, consisting of 8 subfactors, namely the responsibility subfactor in terms of providing supervision, receiving supervision, accuracy of administrative work, finance and securities, tools and machines, conducting social contacts, company confidentiality and work methods. The working conditions and environment factor, consisting of 4 subfactors, namely the workplace, risk of danger/accident, frequency of overtime work and travel dinar. The education, training and work experience factor, consisting of 3 subfactors, namely the minimum basic education requirements and those required, training and work experience. The formulated job factors and subfactors are defined so that a unity of intent is obtained from all questionnaire respondents. The job sub-factors within the job factor have varying degrees, so to identify them, expressed in a degree or other level, a questionnaire was compiled and distributed to the assessment committee to determine the weighting of factors and sub-factors. After that, the weighting was determined using the paired comparison method. From the weighting results, the weighting of the ability and skills factor (0.2370), the effort factor (0.1263), the responsibility factor (0.3065), the work conditions and environment factor (0.0503), and the education, training, and work experience factor (0.2799) was obtained. The determination of the sub-factor degree value was carried out by multiplying the sub-factor weights expressed in percentage form. multiplied by 10,000 and obtained the NRJ. Then the NRJ was sorted from highest to lowest. The highest NRJ was the position of Executive Director (9401) and the lowest NRJ was the office boy position (2327). This NRJ was used as the basis for compiling the basic salary structure. There are two methods for calculating the salary for each position. The first method uses a constant multiplier, which calculates the index for each position by dividing the total old salary budget by the total NRJ. This index represents the rupiah value per NRJ point. The salary is then calculated by multiplying the NRJ by the index. After obtaining the basic salary per position, adjustments are made to achieve a basic salary structure that approximates the current salary level. This adjustment is made by multiplying the basic salary amount received by the multiplier factor. This multiplier factor is obtained from discussions with the assessment committee. If a position's basic salary decreases, the initial basic salary is used. If it is less than the Provincial Minimum Wage (UMP), it is adjusted to the current UMP by adding all salaries per position to the amount of the salary shortfall that positions that are less than the UMP should receive. The second method is linear interpolation, which uses the comparison level between the lowest and highest basic salaries and the NRJ for each position. This is based on the basic salary selection criteria. Therefore, the proposal that the company can implement is a basic salary structure based on NRJ and a multiplier factor with the highest salary being the Executive Director (Rp 9,887,646) and the lowest salary being the Office Boy (Rp 631,554). The funds that the company usually spends to pay the basic salary of all employees is Rp 151,989,000. Meanwhile, to implement this basic salary structure proposal, the company needs to spend Rp 200,023,666. In other words, the company needs to add funds of Rp 48,034,666 (32