Usulan penerapan metode six sigma untuk peningkatan kualitas produktiming belt pada PT. Mitsuboshi Belting Indonesia
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Pembimbing 1 : Dedy Sugiarto
Subyek : Production control;Six sigma (Quality control standard);Quality control - Product
Kata Kunci : six sigma method, product quality, timing belt, PT Mitsuboshi Belting Indonesia
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2003_TA_STI_06399079_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2003_TA_STI_06399079_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-5_Pengolahan-Data-dan-Analisa.pdf |
|
|
| 8. | 2003_TA_STI_06399079_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 9. | 2003_TA_STI_06399079_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 10. | 2003_TA_STI_06399079_Lampiran.pdf |
|
P PT. Mitsuboshi Belting Indonesia merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dalam industri pembuatan tali mesin. Salah satu jenis produk yang diproduksinya adalah produk Timing Belt. Kualitas yang tinggi bukan hanya menjadi persyaratan dari pelanggan tetapi juga merupakan persyaratan bagi PT. Mitsuboshi Belting Indonesia untuk tetap mempertahankan pengakuan sebagai pabrik terbaik dari Power Transmission Belts diseluruh dunia. Dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkannya, perusahaan menerapkan pendekatan tingkat kualitas Six Sigma dengan metode Define- measure- Analyze- Improve- Control. Penelitian dilakukan pada bulan April 2003 — Juli 2003. Penelitian dimulai dengan tahap Define untuk mendefinisikan produk yang akan diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya yaitu didapat Produk Timing Belt Type FMG. Setelah diketahui permasalahannya, dilakukan pengukuran atau tahap Measure. Dicari karakteristik kuncinya atau biasa disebut Critical To Quality, dan diketahui CTQ untuk produk Timing belt ada 7, yaitu Ibutsu(Kotor), Kanagata Kizu(cacat pada gigi), nijuukato(banyak potongan) , Fushokufu(ada sisa kertas pada permukaan), Bokei panku(permukaan dalam pecah), Renketsu(tidak terpotong), dan Ea(gelembung udara). Pengukuran terhadap permasalahan dengan mengambil data dari bulan April 2003 — Mei 2003. Dan diketahui kapabilitas proses sebasar 0.54 dengan tingkat sigma 3.68 dan Cost of Poor Quality Rp 5.769.640,- /hari. Setelah dilakukan pengukuran, dilakukan analisa(Analyze) terhadap permasalahan, analisa yang dilakukan hanya pada tiga cacat terbanyak. Dilakukan brainstorming dengan Ass Technical untuk membuat diagram sebab-akibat. Setelah itu dibuat pertanyaan berdasarkan diagram sebab akibat untuk dibagikan kepada karyawan yang mengetahui penyebab dari ketiga cacat tersebut. Dari hasil jawaban yang didapat dilakukan analisa 5-Whys untuk mengetahui akar permasalahan dari setiap cacat. Dan diketahui akar permasalahan dari cacat ibutsu, kanagat kizu, dan nijuukato adalah material yang tidak sesuai dengan spesifikasi, rusaknya cetakan, dan cutter yang digunakan sebagai alat potong sudah tidak layak pakai. Setelah itu dilakukan perbaikan (Improve) dari permasalahan yang ada dengan metode "5W-2H". Dan selanjutnya dilakukan implementasi yang dilakukan pada tanggal 26 Juli 2003 — 28 Juli 2003. dan didapat kapabilitas proses sebesar 0.89, dengan tingkat sigma 4.32 dan cost of poor quality Rp 224.947,-/hari. Setelah itu diberikan usulan dan saran kepada perusahaan untuk dapat menerapkan basil penelitian yang dilakukan. Agar dapat melakukan penghematan sebesar Rp 5.544.693,-/hari dan terus memantau perkembangan yang terjadi sehingga dapat mengantisipasi setiap permasalahan yang ada.
P PT. Mitsuboshi Belting Indonesia is a manufacturing company specializing in the production of machine belts, including timing belts. High quality is not merely a customer requirement but also essential for the company to maintain its global reputation as a premier manufacturer of power transmission belts. To enhance product quality, the company adopted the Six Sigma approach, utilizing the Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC) methodology. The study was conducted between April and July 2003. It began with the "Define" phase, identifying the Timing Belt Type FMG as the product targeted for quality improvement. Following problem identification, the "Measure" phase was carried out to determine key characteristics—known as Critical to Quality (CTQ) factors. Seven CTQs were identified for the timing belt: *Ibutsu* (foreign matter/dirt), *Kanagata Kizu* (tooth defects), *Nijuukato* (multiple cuts), *Fushokufu* (residual paper on the surface), *Bokei Panku* (inner surface rupture), *Renketsu* (incomplete cutting), and *Ea* (air bubbles). Data regarding these issues were collected from April to May 2003, revealing a process capability of 0.54, a sigma level of 3.68, and a Cost of Poor Quality of IDR 5,769,640 per day. Subsequently, an "Analyze" phase was conducted, focusing specifically on the three most frequent defects. Brainstorming sessions were held with the Technical Assistant to construct cause-and-effect diagrams. Questions based on these diagrams were then distributed to employees knowledgeable about the causes of the three defects. Finally, the responses were analyzed using the "5-Whys" method to identify the root cause of each defect. The root causes of the defects—specifically foreign matter contamination (*ibutsu*), mold damage (*kanagat kizu*), and double-cut marks (*nijuukato*)—were identified as non-specification materials, damaged molds, and worn-out cutting tools. Corrective actions were then developed using the "5W-2H" method and implemented between July 26 and July 28, 2003. The results showed a process capability of 0.89, a sigma level of 4.32, and a cost of poor quality amounting to Rp 224,947 per day. Finally, recommendations were proposed to the company to implement the research findings, enabling daily savings of Rp 5,544,693 and facilitating ongoing monitoring to anticipate and address any future issues.