Usulan penerapan metodologi six sigma di PT. Victor Indah Prima
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Pembimbing 1 : Hamzah Yunuzir
Subyek : Six sigma (Quality control standard);Production control;Quality control - Product
Kata Kunci : implementation, Six Sigma methodology, PT Victor Indah Prima
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2003_TA_STI_06399033_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2003_TA_STI_06399033_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-5_Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 8. | 2003_TA_STI_06399033_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 9. | 2003_TA_STI_06399033_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 10. | 2003_TA_STI_06399033_Lampiran.pdf |
|
P PT. Victor Indah Prima adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang memproduksi office furniture dan rak-rak Compact Disc (CD) beserta komponen-komponen pembentuknya sendiri. Selama ini, hasil produksi PT. Victor Indah Prima selain dipasarkan di dalam negeri juga telah mampu merambah pasar luar negeri dengan permintaan ekspor yang terus meningkat. Seiring dengan bertambahnya produk sejenis lainnya, PT. Victor Indah Prima menghadapi kompetisi yang lebih keras. Dalam kondisi seperti ini PT. Victor Indah Prima hams berusaha memenangkan persaingan dengan memenuhi keinginan atau harapan konsumen sehingga mampu memuaskan konsumen dan menghasilkan produk yang mempunyai daya saing tinggi di pasaran. PT. Victor Indah Prima hams berupaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya, beberapa diantaranya yaitu dengan meningkatkan kualitas produknya, dan mengurangi jumlah produk cacat dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan. Six Sigma adalah suatu sistem yang komprehensif dan fleksibel, berfokus pada pemahaman akan kebutuhan pelanggan dapat diterapkan pada PT Victor Indah Prima. Proyek Six Sigma yang dilakukan menggunakan metode Define-Measure-Analyze-Improve-Control. Tahapan yang dilakukan dalam pengolahan data dilaksanakan sesuai dengan Roadmap Six Sigma. Penelitian pendahuluan dilakukan dengan melakukan wawancara dengan pihak perusahaan dan mengumpulkan data historis perusahaan dari bulan Januari 2003 sampai Maret 2003. Dari wawancara dan diskusi dengan personel perusahaan, dapat ditentukan proses inti dan pelanggan kunci. Setelah itu dilakukan wawancara dengan pelanggan sehingga didapatkan persyaratan pelanggan. Kemudian, dilakukan pengukuran terhadap kinerja saat ini, sesuai persyaratan pelanggan. Dilihat dari persentase reject yang terbanyak, (1.86%), serta rata-rata COPQ yang tertinggi (Rp.207350,00 per hari), Muka CD Seri 6 Kuning ditetapkan sebagai produk yang paling bermasalah. Berikutnya, didapat bahwa proses paling bermasalah untuk Muka CD Seri 6 Kuning adalah proses injeksi. Dari sini dapat dilakukan pendefinisian masalah yang terjadi dan tujuan dari proyek Six Sigma. Berikutnya, dalam fase Analyze digunakan Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) untuk menganalisis akar penyebab tingginya kegagalan / kecacatan. Dari FMEA dan diskusi diperoleh ada beberapa faktor yang memiliki RPN tinggi yaitu temperatur injeksi yang kurang optimal, tekanan injeksi yang kurang tepat, temperatur pendinginan kurang tepat, serta persentase bijih plastik kualitas pertama yang kurang tepat. Dari basil diskusi, didapatkan bahwa perbaikan dapat dilakukan dengan merancang eksperimen dan yang digunakan dalam proyek ini adalah metode Taguchi. Perbaikan diawali dengan menentukan level yang akan diuji pada tiap faktor melalui wawancara, dilanjutkan dengan percobaan Taguchi itu sendiri, diikuti dengan melakukan percobaan konfirmasi. Hasilnya adalah setting optimal, yaitu persentase bijih plastik kualitas pertama sebesar 70%, temperatur injeksi sebesar 220°C, temperatur pendinginan sebesar 15°C, dan tekanan injeksi sebesar 91 bar. Setelah dilakukan percobaan, rencana perbaikan diimplementasikan. Perbaikan yang dilakukan ini berhasil menurunkan persentase barang yang dikembalikan menjadi 1.21% dan rata-rata COPQ menjadi Rp.137750,00 per hari.
P PT. Victor Indah Prima is an Indonesian company that manufactures office furniture and Compact Disc (CD) racks, along with their constituent components. To date, the company's products have not only been marketed domestically but have also successfully penetrated international markets, with export demand steadily rising. Amidst the proliferation of similar products, PT. Victor Indah Prima faces increasingly fierce competition. Consequently, the company must strive to gain a competitive edge by meeting consumer desires and expectations, thereby ensuring customer satisfaction and producing highly competitive goods. To ensure its long-term viability, PT. Victor Indah Prima must take measures such as improving product quality and reducing defect rates to enhance customer satisfaction. Six Sigma—a comprehensive and flexible system focused on understanding customer needs—can be applied at PT. Victor Indah Prima. The Six Sigma project undertaken here utilizes the Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC) methodology, with data processing stages executed in accordance with the Six Sigma roadmap. Preliminary research involved interviewing company personnel and gathering historical data covering the period from January to March 2003. Interviews and discussions with staff helped identify core processes and key customers. Subsequent interviews with customers established specific customer requirements. Current performance was then measured against these requirements. Based on the highest rejection rate (1.86%) and the highest average Cost of Poor Quality (COPQ) (Rp 207,350.00 per day), the "Yellow Series 6 CD Face" was identified as the most problematic product. Further analysis revealed that the injection process was the most problematic stage for this specific product. This allowed for the definition of the problem and the objectives of the Six Sigma project. Finally, during the Analyze phase, Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) was employed to identify the root causes of the high failure or defect rates. FMEA and subsequent discussions identified several factors with high RPN values: suboptimal injection temperature, incorrect injection pressure, incorrect cooling temperature, and an incorrect percentage of prime-quality plastic resin. The proposed solution involved designing an experiment using the Taguchi method. The improvement process began with determining the test levels for each factor through interviews, followed by conducting the Taguchi experiment itself and a subsequent confirmation run. The results yielded optimal settings: 70% prime-quality plastic resin, an injection temperature of 220°C, a cooling temperature of 15°C, and an injection pressure of 91 bar. Following the experiments, the improvement plan was implemented. These measures successfully reduced the percentage of returned goods to 1.21% and lowered the average Cost of Poor Quality (COPQ) to Rp 137,750.00 per day.