Pemetaan distribusi bahan bakar minyak dengan sistem informasi geografis guna menunjang optimasi pendistribusiannya di Indonesia
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Pembimbing 1 : Tiena Gustina Amran
Subyek : Information systems;Industrial management;Database management
Kata Kunci : fuel, oil, information systems, geographic, to support optimization, distribution, in Indonesia
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2003_TA_STI_06398232_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2003_TA_STI_06398232_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-4_Pengumpulan-dan-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-5_Pemetaan-Dengan-Sistem-Informasi-Geografis.pdf |
|
|
| 8. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-6_Analisa.pdf |
|
|
| 9. | 2003_TA_STI_06398232_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 10. | 2003_TA_STI_06398232_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 11. | 2003_TA_STI_06398232_Lampiran.pdf |
|
S Sebagai kuasa usaha atas pengelolaan minyak dan gas bumi negara,. Pertamina hams menjalankan aktivitasnya dengan menerapkan efisiensi di segala bidang. Hal ini tentunya mencakup kegiatan usaha hilir tentang niasa Bahan Bakar Minyak. Dalam mendistribusikan produk-produk Bahan Bakar Minyaknya untuk kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, Pertamina melakukan pola Security of Supply guna menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak di masing-masing wilayah pemasarannya. Sehingga dalam pola tersebut secara teknisnya adalah bahwa seberapa besar kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak di suatu daerah, maka Pertamina berkewajiban menyuplai Bahan Bakar Minyak sebesar perrnintaan tersebut dengan biaya berapapun. Hal ini tentunya harus didukung oleh suatu perencanaan yang optimal guna tercapainya efisiensi di segala bidang tersebut. Oleh karena itu dalam melakukan distribusi Bahan Bakar Minyak dalam negeri Pertamina seharusnya memiliki suatu media yang dapat memberikan infon-nasi guna mendukung perencanaan operasionalnya secara optimal. Pemetaan dengan Sistem Informasi Geografis ini kiranya sangat mendukung Pertamina dalam menjalankan kegiatan usahanya. Pemetaan ini meliputi posisi-posisi sarana perbekalan dalam negeri, lokasi kilang minyak di Indonesia, jalur distribusi serta pembagian wilayah pemasaran di Indonesia. Sehingga dengan dilakukannya pemetaan digital ini akan mampu untuk menunjang kegiatan operasional Pertamina khususnya dalam menangani optimasi pendistribusian BBM ke wilayah-wilayah pemasarannya. Beberapa data untuk mendukung Sistem Informasi Geografis ini dikumpulkan, seperti data kebutuhan BBM di Indonesia, kapasitas kilang-kilang terpasang, sarana pembekalan BBM dalam negeri dan tentunya peta wilayah Republik Indonesia yang dijadikan acuan pembuatan peta digital ini. Data-data kebutuhan masa lalu BBM diolah untuk mendapatkan proyeksi kebutuhan BBM pada tahun 2003 untuk selanjutnya sebagai suatu analisa kondisi BBM dalam negeri. Didapatkan dari hasil peramalan, kebutuhan BBM dalam negeri tahun 2003 adalah sebesar 63188491 Kiloliter atau meningkat sebesar 2,15 % dari tahun sebelumnya. Kemudian data-data distribusi untuk bulan Januari 2003 juga dikumpulkan semacam data Vessel, biaya Vessel, kebutuhan unit pemasaran dan data suplai kilang ke unit pemasaran tersebut. Adapun unit pemasaran yang dapat memenuhi data-data tersebut pada saat penelitian adalah Unit Pemasaran VII Makassar. Selanjutnya data-data tersebut diolah untuk mendapatkan biaya angkut per-Barrels sehingga akan didapatkan biaya satu trip perjalanan Vessel ke tempat tujuannya. Setelah itu dilakukan pendekatan transportasi untuk distribusi BBM tersebut. Sesuai dengan permasalahan yang ada maka digunakan metode Transshipment guna memperoleh solusi optimum dari pendekatan transportasi tersebut. Sehingga dari hasil pengolahan data tersebut didapatkan biaya transportasi optimum bulan Januari 2003 adalah sebesar US$ 5.343.776,50 untuk distribusi ke wilayah Unit Pemasaran VII Makassar.
A As the authorized representative for the management of the country's oil and gas, Pertamina must carry out its activities by implementing efficiency in all areas. This certainly includes downstream business activities related to the fuel oil trade. In distributing its fuel oil products to meet the increasing domestic demand, Pertamina implements a Security of Supply pattern to ensure the availability of fuel oil in each of its marketing areas. Therefore, technically, according to this pattern, no matter how great the need for fuel oil in a region, Pertamina is obliged to supply fuel oil in accordance with that demand at any cost. This must of course be supported by optimal planning to achieve efficiency in all areas. Therefore, in carrying out domestic fuel oil distribution, Pertamina should have a media that can provide information to support its operational planning optimally. Mapping with this Geographic Information System is expected to greatly support Pertamina in carrying out its business activities. This mapping includes the positions of domestic supply facilities, the location of oil refineries in Indonesia, distribution routes, and the division of marketing areas in Indonesia. Thus, this digital mapping will be able to support Pertamina's operational activities, especially in handling the optimization of fuel distribution to its marketing areas. Several data to support this Geographic Information System were collected, such as data on fuel needs in Indonesia, the installed capacity of refineries, domestic fuel supply facilities, and of course the map of the Republic of Indonesia which served as a reference for creating this digital map. Data on past fuel needs were processed to obtain a projection of fuel needs in 2003 for further analysis of domestic fuel conditions. Obtained from the forecast results, domestic fuel needs in 2003 were 6,318,8491 kiloliters or an increase of 2.15% from the previous year. Then, distribution data for January 2003 was also collected such as vessel data, vessel costs, marketing unit needs and refinery supply data to the marketing unit. The marketing unit that was able to fulfill these data at the time of the research was Marketing Unit VII Makassar. The data was then processed to obtain the transportation cost per barrel, thus obtaining the cost of one trip from the vessel to its destination. A transportation approach was then applied to the distribution of the fuel. In accordance with the existing problem, the transshipment method was used to obtain the optimum solution from this transportation approach. The results of the data processing resulted in the optimum transportation cost for January 2003 being US$ 5,343,776.50 for distribution to the Marketing Unit VII Makassar area.