Analisis perbandingan banjir rencana das kedaung menggunakan metode hidrograf satuan sintetik nakayasu, gama i, dan scs
Penerbit : FTSP - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Sih Andajani
Kata Kunci : Kedaung Watershed, Design Flood Discharges; Synthetic Unit Hydrograph, Nakayasu Method, Gama I Metho
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_STS_051002200012_Halaman-Judul.pdf | 14 | |
| 2. | 2026_SK_STS_051002200012_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_STS_051002200012_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_STS_051002200012_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_STS_051002200012_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 6. | 2026_SK_STS_051002200012_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_STS_051002200012_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_STS_051002200012_Bab-1.pdf | 5 | |
| 9. | 2026_SK_STS_051002200012_Bab-2.pdf | 41 |
|
| 10. | 2026_SK_STS_051002200012_Bab-3.pdf | 6 |
|
| 11. | 2026_SK_STS_051002200012_Bab-4.pdf | 48 |
|
| 12. | 2026_SK_STS_051002200012_Bab-5.pdf | 1 | |
| 13. | 2026_SK_STS_051002200012_Daftar-Pustaka.pdf | 3 | |
| 14. | 2026_SK_STS_051002200012_Lampiran.pdf | 1 |
|
D Daerah aliran sungai (das) kedaung merupakan anak sungai dari sistem das angke-pesanggrahan yang berfungsi sebagai saluran drainase utama di wilayah tangerang selatan. perubahan tata guna lahan yang berlangsung secara pesat, khususnya di kawasan permukiman bukit pamulang indah dan pamulang estate, telah mengurangi daerah resapan air secara signifikan sehingga meningkatkan limpasan permukaan dan debit puncak banjir. keterbatasan data debit sungai per jam di das kedaung menyebabkan estimasi debit banjir rencana tidak dapat dilakukan menggunakan analisis frekuensi maupun metode hidrograf satuan teramati. oleh karena itu, pendekatan hidrograf satuan sintetik (hss) digunakan dalam penelitian ini. penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi debit banjir rencana serta membandingkan karakteristik hidrograf yang dihasilkkan oleh metode hss nakayasu, gama i, dan soil conservation service (scs) guna menentukan metode yang paling mewakili karakteristik hidrologi das kedaung. metodologi penelitian meliputi pengumpulan data hujan harian maksimum tahunan selama 16 tahun (2010-2025) dari stasiun hujan sawangan, pengujian konsistensi data hujan dan pemilihan distribusi probabilitas yang paling sesuai, serta perhitungan debit banjir rencana menggunakan ketiga metode hss untuk kala ulang 5 tahun dan 10 tahun. hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan rencana sebesar 110,9 mm untuk kala ulang 5 tahun dan 122,9 mm untuk kala ulang 10 tahun. pada kala ulang 5 tahun, debit puncak banjir yang diperoleh adalah sebesar 41,19 m3/s dengan metode nakayasu, 45,76 m3/s dengan metode gama i, 45,63 m3/s dengan metode scs. sementara itu, pada kala ulang 10 tahun, debit puncak banjir yang dihasilkan masing-masing sebesar 44,38 m3/s, 49,53 m3/s, dan 49,47 m3/s. metode scs menghasilkan waktu menuju puncak (time to peak) paling lama, sedangkan metode nakayasu menghasilkan debit puncak terkecil dan waktu dasar hidrograf (base time) paling panjang. dengan mempertimbangkan bentuk das kedaung yang memanjang serta kemiringan lereng yang relatif landau, metode hidrograf satuan sintetik nakayasi dinilai paling representative dalam menggambarkan karakteristik hidrologi das kedaung dan direkomendasikan sebagai dasar yang andal dalam perencanaan pengendalian banjir di das kedaung
T The kedaung watershed is a tributary of the angke–pesanggrahan watershed system and serves as the primary drainage channel in the south tangerang area. rapid land use changes, particularly in the bukit pamulang indah and pamulang estate residential areas, have significantly reduced infiltration areas, resulting in increased surface runoff and higher peak flood discharges. the limited availability of hourly streamflow data in the kedaung watershed prevents the estimation of design flood discharge using frequency analysis or observed unit hydrograph methods. therefore, the synthetic unit hydrograph (suh) approach was adopted in this study. this research aims to estimate the design flood discharge and compare the hydrograph characteristics produced by the nakayasu, gama i, and soil conservation service (scs) synthetic unit hydrograph methods in order to determine the method that best represents the hydrological characteristics of the kedaung watershed. the research methodology consisted of collecting 16 years (2010–2025) of annual maximum daily rainfall data from the sawangan rainfall station, performing rainfall data consistency tests and selecting the most appropriate probability distribution, followed by estimating the design flood discharge using the three synthetic unit hydrograph methods for 5-year and 10-year return periods. the results indicate that the design rainfall was 110.9 mm for the 5-year return period and 122.9 mm for the 10-year return period. for the 5-year return period, the estimated peak flood discharges were 41.19 m³/s using the nakayasu method, 45.76 m³/s using the gama i method, and 45.63 m³/s using the scs method. meanwhile, for the 10-year return period, the corresponding peak flood discharges were 44.38 m³/s, 49.53 m³/s, and 49.47 m³/s, respectively. the scs method produced the longest time to peak, whereas the nakayasu method resulted in the lowest peak discharge and the longest base time. considering the elongated shape of the kedaung watershed and its relatively gentle slope, the nakayasu synthetic unit hydrograph method was found to be the most representative in describing the hydrological characteristics of the kedaung watershed and is therefore recommended as a reliable basis for flood control planning within the watershed.