Usulan perbaikan tata letak fasilitas produksi berdasarkan konsep teknologi kelompokdengan bantuan promodel release 4.0 pada PT. Soraya Interindo
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1999
Pembimbing 1 : Didien Suhardini
Pembimbing 2 : Iveline Anne Marie
Subyek : Industrial management;Inventory control;Production control;Plant layout
Kata Kunci : facility layout, production, technology group, promodel assistance, release 4.0, PT. Soraya Interind
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 1999_TA_STI_06395319_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 1999_TA_STI_06395319_Lembar-Pengesahan.pdf | 3 | |
| 3. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-3_Metode-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-4_Pengumpulan-Dan-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-5_Perancangan-Model-Tata-Letak.pdf |
|
|
| 8. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-6_Analisis.pdf |
|
|
| 9. | 1999_TA_STI_06395319_Bab-7_Kesimpulan-Dan-Saran.pdf | 3 | |
| 10. | 1999_TA_STI_06395319_Daftar-Pustaka.pdf | 2 | |
| 11. | 1999_TA_STI_06395319_Lampiran.pdf |
|
U UD. R merupakan suatu perusahaan yang memproduksi beberapa jenis komponen kendaraan bermotor, antara lain lampu kendaraan, pedal gas, saringan debu, dan sebagainya. Dengan adanya krisis yang melanda negara kita saat ini, maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengoptimalkan kegiatan produksinya. Selain itu perusahaan juga hams menjaga hubungan baik dengan para pelanggannya melalui ketepatan waktu pengiriman setiap barang pesanan. Untuk mencapai tujuan ini maka diperlukan suatu penjadwalan produksi yang baik, yang dapat memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu penyelesaian seperti pembagian pekerjaan-pekerjaan kepada semua mesin secara merata. Penjadwalan yang dilakukan oleh UD.R. pada saat ini adalah berdasarkan pertimbangan subyektif, sehingga menjadi kurang efektif terutama dalam upava untuk mempersingkat rentang waktu pembuatan komponen yang dibuat, apalagi jika terdapat sejumlah komponen baru yang harus dibuat pada saat produksi masih berjalan.. Hal ini kemudian turut mempengaruhi saat penyerahan produk jadi ke konsumen. Dalam pencarian penjadwalan produksi yang lebih baik, dilakukan penjadwalan melalui beberapa metode heuristik seperti Shortest Processing Time (SPT), Most Work Remaining (MWKR), Largest Number of Successors (LNS), dan Shifting Bottleneck (S8). Setelah dilakukan perbandingan diantara masing-masing metoda penjadwalan maka metoda penjadwalan Shifting Bottleneck (SB) terpilih sebagai metoda yang terbaik untuk diterapkan karena metoda ini mempunyai nilai terkecil dalam makespan. Nilai ini menunjukkan bahwa dengan metoda ini menghasilkan rentang waktu pemesinan tersingkat dibandingkan dengan metoda-metoda yang lain.. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir dan pihak perusahaan yaitu meminimalkan keterlambatan pengiriman agar dapat menjaga nama baik dan hubungan dengan para pelanggannya. Metoda SB ini kemudian diimplementasikan pada UD. R. dengan memperhitungkan faktor lain, yakni keberadaan pekerjaan sisipan baru. Untuk mengantisipasi hal itu, maka penerapan metode SB diatur berdasarkan algoritma First Come First Served (FCFS). Hasil implementasi ini menghasilkan rentang waktu pemesinan yang lebih cepat sekitar 3 — 5 hari dan rencana produksi yang telah disusun perusahaan.
U UD. R merupakan suatu perusahaan yang memproduksi beberapa jenis komponen kendaraan bermotor, antara lain lampu kendaraan, pedal gas, saringan debu, dan lain sebagainya. Dengan adanya krisis yang melanda negara kita saat ini, maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengoptimalkan kegiatan produksinya. Selain itu perusahaan juga hams menjaga hubungan baik dengan para pelanggannya melalui ketepatan waktu pengiriman setiap barang pesanan. Untuk mencapai tujuan ini maka diperlukan suatu penjadwalan produksi yang baik, yang dapat memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu penyelesaian seperti pembagian pekerjaan-pekerjaan kepada semua mesin secara merata. Penjadwalan yang dilakukan oleh UD.R. pada saat ini adalah berdasarkan pertimbangan subyektif, sehingga menjadi kurang efektif terutama dalam upava untuk mempersingkat jarak waktu pembuatan komponen yang dibuat, apalagi jika terdapat sejumlah komponen baru yang harus dibuat pada saat produksi masih berjalan.. Hal ini kemudian ikut mempengaruhi saat presentasi produk jadi ke konsumen. Dalam penjadwalan produksi yang lebih baik, penjadwalan dilakukan melalui beberapa metode heuristik seperti Shortest Processing Time (SPT), Most Work Remaining (MWKR), Largest Number of Successors (LNS), dan Shifting Bottleneck (S8). Setelah dilakukan perbandingan antar masing-masing metode penjadwalan maka metode penjadwalan Shifting Bottleneck (SB) terpilih sebagai metode yang terbaik untuk diterapkan karena metode ini mempunyai nilai terkecil dalam makespan. Nilai ini menunjukkan bahwa dengan metode ini menghasilkan rentang waktu pemesinan tersingkat dibandingkan dengan metode-metoda yang lain. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir dan pihak perusahaan yaitu meminimalkan keterlambatan pengiriman agar dapat menjaga nama baik dan hubungan dengan para pelanggannya. Metode SB ini kemudian diimplementasikan pada UD. R. dengan memperhitungkan faktor lain, yakni keberadaan pekerjaan sisipan baru. Untuk mengantisipasi hal itu, maka penerapan metode SB diatur berdasarkan algoritma First Come First Serve (FCFS). Hasil implementasi ini menghasilkan rentang waktu pemesinan yang lebih cepat sekitar 3 — 5 hari dan rencana produksi yang telah disusun perusahaan.