Analisis deformasi permukaan daerah bogor menggunakan metode ps-insar dengan data sentinel-1
Penerbit : FTKE - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Novi Triany
Kata Kunci : Bogor; Land Subsidence; PS-InSAR; Sentinel-1; Surface Deformation.
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_STG_072002100007_Halaman-Judul.pdf | 20 | |
| 2. | 2026_SK_STG_072002100007_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_STG_072002100007_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_STG_072002100007_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_STG_072002100007_Lembar-Pengesahan.pdf | 2 | |
| 6. | 2026_SK_STG_072002100007_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_STG_072002100007_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_STG_072002100007_Bab-1.pdf | ||
| 9. | 2026_SK_STG_072002100007_Bab-2.pdf |
|
|
| 10. | 2026_SK_STG_072002100007_Bab-3.pdf |
|
|
| 11. | 2026_SK_STG_072002100007_Bab-4.pdf |
|
|
| 12. | 2026_SK_STG_072002100007_Bab-5.pdf | ||
| 13. | 2026_SK_STG_072002100007_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 14. | 2026_SK_STG_072002100007_Lampiran.pdf |
|
D Deformasi permukaan di wilayah bogor mencerminkan kompleksitas transisi tektono-stratigrafi antara cekungan jakarta dan cekungan bogor yang dinamis. hasil pemantauan menunjukkan adanya anomali spasial yang kontras, di mana wilayah utara yang padat pemukiman justru mengalami pengangkatan (uplift), sementara wilayah selatan yang didominasi vegetasi hutan mengalami penurunan (subsidence). fenomena ini menantang paradigma konvensional mengenai beban antropogenik sebagai pemicu utama deformasi dan mengarahkan fokus pada mekanisme tektonik blok serta karakteristik internal litologi sebagai pengontrol dominan di wilayah tersebut.pemetaan distribusi spasial deformasi ini dilakukan menggunakan teknik persistent scatterer interferometric synthetic aperture radar (ps-insar) terhadap 102 citra sentinel-1a periode 2017–2025. pengolahan melalui perangkat lunak sarproz berhasil mengidentifikasi 6.687 titik ps dengan tingkat koherensi minimum 0.7 dan baseline spasial rata-rata 40 m. metode ini terbukti efektif dalam mengekstraksi sinyal deformasi skala milimeter dengan menekan gangguan dekoherensi fase akibat vegetasi, sehingga menghasilkan basis data deret waktu yang reliabel untuk menganalisis stabilitas permukaan tanah di bogor.pola deformasi yang terbentuk menunjukkan gradasi sistematis yang terbagi ke dalam tiga zona mekanis. zona utara (area a) didominasi oleh tren pergerakan positif dengan laju maksimum mencapai +3.12 mm/tahun. sebaliknya, zona selatan (area c–d) menunjukkan tren pergerakan negatif yang intensif dengan laju maksimum -8.95 mm/tahun dan akumulasi penurunan kumulatif mencapai -73.78 mm. area tengah (area b) bertindak sebagai zona transisi atau titik tumpu (pivot) dengan kondisi permukaan yang stabil pada rentang kecepatan mendekati 0.0 mm/tahun.pengangkatan yang konsisten di bagian utara merupakan manifestasi dari posisi wilayah tersebut sebagai blok tetap (footwall) dalam kerangka tektonik regional. meskipun memiliki tutupan lahan pemukiman padat, gaya angkat tektonik yang berkaitan dengan sistem struktur dalam tetap dominan. bukti aktivitas ini diperkuat oleh data kegempaan dangkal pada kedalaman 10.0 hingga 18.0 km dengan magnitudo mencapai 3.69, yang menunjukkan bahwa blok utara mempertahankan stabilitas elevasi terhadap gaya ekstensi parsial yang bekerja di sekitarnya.penurunan yang terjadi di wilayah hutan bagian selatan dipicu oleh mekanisme jungkitan (tilting) blok tektonik dan karakteristik fisik endapan vulkanik kuarter yang tebal. sebagai blok turun (hanging wall) yang mengalami ekstensi parsial, wilayah selatan merespon gravitasi melalui proses konsolidasi berat sendiri (self-weight consolidation) pada material tuf dan lahar yang belum terkompaksi sempurna. kondisi kelerengan yang berada pada rentang 8–25% serta klasifikasi kerentanan gerakan tanah menengah semakin mempercepat reduksi ruang pori tanah, menyebabkan permukaan di area vegetasi ini tetap mengalami penurunan tanpa adanya intervensi beban infrastruktur yang masif.secara sintetis, dinamika permukaan di bogor dikontrol oleh interaksi antara mesin tektonik di kedalaman dan respon mekanis material permukaan. perbedaan respon antara blok utara yang naik dan blok selatan yang turun menegaskan posisi bogor sebagai zona transisi geologi yang aktif. implikasi praktis dari temuan ini mengharuskan adanya audit struktural bangunan terhadap risiko tektonik di bagian utara, serta manajemen tata ruang yang lebih ketat di bagian selatan guna memitigasi risiko penurunan tanah jangka panjang pada material vulkanik yang tidak stabil.
S Surface deformation in the bogor region reflects the complexity of the dynamic tectono-stratigraphic transition between the jakarta basin and the bogor trough. monitoring results reveal a contrasting spatial anomaly, where the densely populated northern area experiences uplift, while the forested southern area undergoes subsidence. this phenomenon challenges the conventional paradigm regarding anthropogenic loading as the primary driver of deformation and shifts the focus toward block tectonic mechanisms and internal lithological characteristics as the dominant controls in the region.the spatial distribution mapping of this deformation was conducted using the persistent scatterer interferometric synthetic aperture radar (ps-insar) technique on 102 sentinel-1a images from the 2017–2025 period. processing via sarproz software successfully identified 6,687 ps points with a minimum coherence of 0.7 and an average spatial baseline of 40 m. this method proved effective in extracting millimeter-scale deformation signals by suppressing phase decorrelation caused by vegetation, thereby generating a reliable time-series database to analyze land surface stability in bogor.the resulting deformation patterns show a systematic gradation divided into three mechanical zones. the northern zone (area a) is dominated by a positive movement trend with a maximum rate of +3.12 mm/year. conversely, the southern zone (area c–d) exhibits an intensive negative movement trend with a maximum rate of -8.95 mm/year and a cumulative subsidence accumulation of -73.78 mm. the central area (area b) acts as a transition zone or pivot point with stable surface conditions at a velocity range approaching 0.0 mm/year.the consistent uplift in the northern part is a manifestation of the area\\\'s position as a stable footwall within the regional tectonic framework. despite the dense residential land cover, the tectonic uplift forces associated with the deep structural system remains dominant. evidence of this activity is reinforced by shallow seismic data at depths of 10.0 to 18.0 km with magnitudes reaching 3.69, indicating that the northern block maintains elevational stability against the partial extensional forces acting in its vicinity.subsidence occurring in the southern forested region is triggered by block tectonic tilting mechanisms and the physical characteristics of thick quaternary volcanic deposits. as a descending hanging wall experiencing partial extension, the southern region responds to gravity through self-weight consolidation of unconsolidated tuff and lahar materials. slope conditions ranging from 8–25% and a medium ground movement vulnerability classification further accelerate soil pore space reduction, causing the surface in this vegetated area to subside even without massive infrastructure loading interventions.synthetically, surface dynamics in bogor are controlled by the interaction between deep tectonic engines and the mechanical response of surface materials. the differing responses between the rising northern block and the descending southern block confirm bogor\\\'s position as an active geological transition zone. the practical implications of these findings necessitate structural building audits regarding tectonic risks in the northern part, as well as stricter spatial management in the southern part to mitigate long-term land subsidence risks on unstable volcanic materials.