Karakteristik geokimia dan lingkungan pengendapan batuan induk di formasi toraja dan date, sub-cekungan enrekang, sulawesi selatan
Penerbit : FTKE - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Yarra Sutadiwiria
Pembimbing 2 : Rendy
Subyek : Biochemical markers
Kata Kunci : Biomarker, Depositional environment, Enrekang Sub-basin, Source rock, Thermal maturity
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_STG_072002200030_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2026_SK_STG_072002200030_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_STG_072002200030_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_STG_072002200030_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_STG_072002200030_Lembar-Pengesahan.pdf | 2 | |
| 6. | 2026_SK_STG_072002200030_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_STG_072002200030_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_STG_072002200030_Bab-1.pdf | ||
| 9. | 2026_SK_STG_072002200030_Bab-2.pdf |
|
|
| 10. | 2026_SK_STG_072002200030_Bab-3.pdf |
|
|
| 11. | 2026_SK_STG_072002200030_Bab-4.pdf |
|
|
| 12. | 2026_SK_STG_072002200030_Bab-5.pdf | ||
| 13. | 2026_SK_STG_072002200030_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 14. | 2026_SK_STG_072002200030_Lampiran.pdf |
|
S Sub-cekungan enrekang memiliki sistem petroleum aktif yang ditandai rembesan minyak batukede, namun karakteristik geokimia dan lingkungan pengendapan formasi toraja–date belum pernah dibaca dalam satu kerangka terpadu yang diikat kendali umur biostratigrafi. penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi geokimia organik, merekonstruksi lingkungan pengendapan dan umur relatif, serta menjelaskan keterkaitan keduanya dengan sejarah geologi sub-cekungan. data diperoleh dari delapan lokasi pengamatan permukaan yang dikelompokkan menjadi lintasan utara dan lintasan selatan. karakterisasi geokimia dilakukan melalui total organic carbon (toc), rock-eval pyrolysis (rep), dan gas chromatography–mass spectrometry (gc-ms), sedangkan lingkungan pengendapan direkonstruksi melalui analisis litofasies dengan kendali umur dari nannofosil gampingan. analisis nannofosil menempatkan suksesi pada rentang eosen tengah–akhir (zona np16–np17) hingga miosen tengah–akhir (zona nn7–nn9). nilai toc membentang dari 0,04 % hingga 64,98 %, terpusat pada lapisan batubara di yr-1. meskipun demikian, seluruh conto batuan in-situ terplot pada kerogen tipe iv dengan hydrogen index 2–27 mg hc/g toc dan tmax batubara 541–544 °c, sedangkan conto pada rembesan batukede menunjukkan production index 0,52 pada tmax 406 °c yang mencirikan impregnasi hidrokarbon bermigrasi dan bukan kerogen in-situ. lintasan selatan merekam perubahan lingkungan dari paparan laut, menuju estuari, rawa gambut, dan dataran delta, kemudian kembali menjadi paparan laut, sedangkan lintasan utara bertahan pada paparan laut dangkal yang relatif stabil. integrasi ketiga jalur data menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan mengendalikan jumlah material organik yang terakumulasi, sedangkan kualitas dan tipe kerogen yang terbaca saat ini dikendalikan oleh sejarah geologi setelah pengendapan, yaitu pemanasan berlebih dan migrasi hidrokarbon selama fase kompresi kalosi. pemetaan sebaran batuan induk pada cekungan ini karena itu perlu diuji silang dengan data geokimia dan kendali umur biostratigrafi.kata kunci: batuan induk, biomarker, kematangan termal, lingkungan pengendapan, sub-cekungan enrekang
T The enrekang sub-basin hosts an active petroleum system marked by the batukede oil seep, yet the geochemical characteristics and depositional environment of the toraja–date formation have never been read within a single integrated framework anchored by biostratigraphic age control. this study aims to characterise the organic geochemistry, reconstruct the depositional environment and relative age, and explain how both relate to the geological history of the sub-basin. data were obtained from eight surface observation sites grouped into a northern transect and a southern transect. geochemical characterisation was carried out through total organic carbon (toc), rock-eval pyrolysis (rep), and gas chromatography–mass spectrometry (gc-ms), while the depositional environment was reconstructed through lithofacies analysis with age control from calcareous nannofossils. nannofossil analysis places the succession within the middle–late eocene (zone np16–np17) to middle–late miocene (zones nn7–nn9) interval. toc values range from 0.04 % to 64.98 %, concentrated in the coal seams at yr-1. nevertheless, all in-situ rock samples plot as type iv kerogen with hydrogen index values of 2–27 mg hc/g toc and coal tmax values of 541–544 °c, whereas the sample from the batukede seep shows a production index of 0.52 at a tmax of 406 °c, characteristic of impregnation by migrated hydrocarbons rather than in-situ kerogen. the southern transect records an environmental shift from marine shelf, through estuarine, peat swamp, and delta plain settings, and back to marine shelf, whereas the northern transect remains within a relatively stable shallow marine shelf. integration of the three data strands demonstrates that the depositional environment controls the amount of organic matter accumulated, whereas the kerogen quality and type observed today are controlled by post-depositional geological history, namely excessive heating and hydrocarbon migration during the kalosi compressional phase. mapping source rock distribution in this basin therefore requires cross-checking against geochemical data and biostratigraphic age control.keywords : biomarker, depositional environment, enrekang sub-basin, source rock, thermal maturity