Usulan perbaikan tata letak lantai produksi dan peningkatan kapasitas produksidengan alternatif lembur dan penambahan mesin di PT. Yuli Eka Pesona
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2002
Pembimbing 1 : Sumiharni Batubara
Subyek : Factory management;Plant layout;Industrial management;Inventory control;Production control
Kata Kunci : layout, floor, production, overtime, and machinery at PT. Yuli Eka Pesona
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2002_TA_STI_06398202_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2002_TA_STI_06398202_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-5_Perancangan-dan-Analisa.pdf |
|
|
| 8. | 2002_TA_STI_06398202_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 9. | 2002_TA_STI_06398202_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 10. | 2002_TA_STI_06398202_Lampiran.pdf |
|
P PT. Yuli Eka Pesona merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kemasan tube plastik. Masalah pertama yang sedang dihadapi perusahaan adalah kurangnya kapasitas produksi khususnya tube plastik Biore diameter 22 mm sebagai produk dengan jumlah permintaan terbanyak, yang menyebabkan keterlambatan waktu pemenuhan pesanan. Masalah kedua yang dihadapi adalah tata letak pabrik yang belum baik. Masalah ini menyebabkan tidak optimalnya kinerja perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan usulan perbaikan tata letak pabrik sehingga kinerja perusahaan bisa lebih baik. Dan untuk meningkatkan kapasita.s produksi Biore 22 mm yang masih kurang, diusulkan 2 alternatif pilihan, yaitu dengan penambahan jam kerja atau dengan penambahan mesin. Penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan dan menganalisa faktor-faktor apa saja yang menyebabkan tidak optimalnya kinerja perusahaan. Analisa dilakukan dengan membua.t diagram alir, peta proses operasi, lembur pengurutan proses produksi, jumlah kebutuhan mesin teoritis, jumlah jam lembur yang dibutuhkan, dan gantt chart produksi. Dari hasil analisa diketahui bahwa dengan alternatif penambahan jam kerja (lembur), kapasitas produksi maksimal yang dapat ditingkatkan sebesar 52.800 unit / hari. Sedangkan dengan alternatif penambahan mesin, kapasitas produksi dapat ditingkatkan menjadi 66.500 unit / hari. Peningkatan kapasitas produksi dengan alternatif penambahan jam kerja dilakukan dengan memberikan tambahan jam kerja (lembur) untuk mesin printer Biore 22 mm (sebanyak 2 mesin) pada hari Sabtu. Sedangkan peningkatan kapasitas produksi pada alternatif penambahan mesin dilakukan dengan menambah 1 mesin printer. Dari analisa awal, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan luas lantai produksi yang diperlukan, menghitung biaya penanganan material (MT-IPS). Dari MRPS dibuat FTC biaya yang menjadi dasar pembuatan FTC inflow dan. FTC Outflow, kemudian disusun skala priorita.s Inflow dan Outflow. Dengan adanya skala prioritas Inflow dan Outflow dibuat Diagram Keterkaitan Kegiatan / Area Relationship Diagram (ARD). Dan selanjutriya dibuat Area Allocation Diagram (AAD) dan aliran sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Perhitungan luas lantai dan MEIES untuk kedua alternatif tidak berbeda jauh. Untuk alternatif penambahan jam lembur, luas lantai yang diperlukan sebesar 2.089,61 m2 dengan biaya MHES sebesar Rp.26.617,98,-/ hari. Sedangkan untuk alternatif penambahan mesin, luas lantai yang diperlukan sebesar 2.139,13 m2 dengan biaya MT-TFS sebesar Rp. 29.523,14,-/ hari. Dari kedua alternatif tersebut, dilakukan perbandingan biaya dan kapasitas produksi yang dapat ditingkatkan . Biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dengan usulan alternatif penambahan jam kerja sebesar Rp. 96.712.453.016,- (N= 10 tahun) dan Biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dengan usulan alternatif penambahan mesin sebesar Rp.122.337.243.826,69- (N=10 tahun). Perbedaan biaya pengeluaran untuk kedua alternatif tersebut sebesar 26,50 %. Dengan dilakukannya analisa sensitivitas pada alternatif penambahan mesin, dapat diketahui bahwa perusahaan harus mengambil marjin keuntungan minimal sebesar 30% sehingga investasi penambahan mesin printer dapat menguntungkan bagi perusahaan.
P PT. Yuli Eka Pesona is a company engaged in the manufacture of plastic tube packaging. The first issue facing the company is insufficient production capacity—specifically for the 22 mm diameter Biore plastic tube, which has the highest demand—leading to delays in order fulfillment. The second issue is a suboptimal factory layout, which hinders the company's performance. This study aims to propose layout improvements to enhance company performance. To address the capacity shortfall for the 22 mm Biore tube, two alternatives are proposed: increasing working hours or adding machinery. The study began with data collection and an analysis of the factors contributing to suboptimal performance. Analysis tools included flowcharts, operation process charts, production process sequencing, theoretical machine requirements, required overtime hours, and production Gantt charts. The analysis revealed that the "increased working hours" (overtime) alternative could raise maximum production capacity to 52,800 units per day, whereas the "additional machinery" alternative could increase it to 66,500 units per day. The increased-hours alternative involves scheduling overtime on Saturdays for the two Biore 22 mm printing machines, while the additional-machinery alternative involves adding one printing machine. Following the initial analysis, the study proceeded to calculate the required production floor area and material handling costs (MT-IPS). A cost-based From-To Chart (FTC) was derived from the MT-IPS to serve as the basis for creating Inflow and Outflow FTCs, from which priority scales for Inflow and Outflow were established. Based on these priority scales, an Activity Relationship Diagram (ARD) was created, followed by an Area Allocation Diagram (AAD) and a flow layout reflecting actual conditions. Calculations regarding floor area and material handling costs showed little difference between the two alternatives. For the alternative involving increased overtime hours, the required floor area is 2,089.61 m², with a daily MHES cost of Rp26,617.98. Meanwhile, for the alternative involving the addition of machines, the required floor area is 2,139.13 m², with a daily MT-TFS cost of Rp29,523.14. A comparison of costs and potential increases in production capacity was conducted for both alternatives. The total cost to the company for the extended working hours alternative is Rp96,712,453,016 (N=10 years), whereas the cost for the additional machine alternative is Rp122,337,243,826.69 (N=10 years). The cost difference between the two alternatives is 26.50%. Sensitivity analysis of the additional machine alternative reveals that the company must secure a minimum profit margin of 30% for the investment in additional printer machines to be profitable.