DETAIL KOLEKSI

Usulan perbaikan tata letak lantai produksi untuk meminimasi biaya material handlingdi departemen dyeing dan finishing PT. Indonesia Synthetic Textile Mills


Oleh : Asti Hendaryani

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2000

Pembimbing 1 : Sumiharni Batubara

Subyek : Production control;Plant layout;Industrial management;Inventory control

Kata Kunci : floor layout, production, minimizing, cost, material handling, dyeing and finishing department, PT.

Status Posting : Published

Status : Tidak Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2000_TA_STI_06396040_Halaman-Judul.pdf
2. 2000_TA_STI_06396040_Lembar-Pengesahan.pdf
3. 2000_TA_STI_06396040_Bab-1_Pendahuluan.pdf
4. 2000_TA_STI_06396040_Bab-2_Landasan-Teori.pdf
5. 2000_TA_STI_06396040_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf
6. 2000_TA_STI_06396040_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf
7. 2000_TA_STI_06396040_Bab-5_Pengolahan-Data-dan-Analisa.pdf
8. 2000_TA_STI_06396040_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf
9. 2000_TA_STI_06396040_Daftar-Pustaka.pdf
10. 2000_TA_STI_06396040_Lampiran.pdf

P PT. Indonesia Synthetic Textile Mills merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri tekstil terintegrasi yang terdiri dari pemintalan, pertenunan dan pencelupan warna. Hasil produksinya terutama bahan-bahan sandang untuk pakaian pria dan wanita yang terbuat dari serat-serat campuran sintetis (Polyester dan Rayon). Jenis kain hasil produksi utamanya adalah kain jenis Reguler, Weight Reduce, Pocket, ZEEONE, Epoka dan Teflon High Technology. Sebagai perusahaan yang 75 % dari tekstil produksinya adalah untuk tujuan ekspor ke Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa dan sebagainya, maka perusahaan berusaha agar dapat selalu mencapai target produksi yang ditetapkan berdasarkan budget perusahaan dan jumlah permintaan konsumen. Pengkajian atas rancangan tata letak lantai produksi di Departemen Dyeing dan Finishing yang menyeluruh diperlukan karena selama ini penambahan mesin yang dilakukan oleh perusahaan dilakukan pada area di lantai produksi yang kosong tanpa memperhatikan hubungan kedekatan antar mesin, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah mesin yang perlu ditambahkan untuk kelancaran kegiatan produksi, meminimasi jarak perpindahan aliran material sehingga meminimasi biaya material handling dan waktu perpindahannya serta memberikan usulan terhadap perbaikan tata letak lantai produksi dengan jumlah mesin yang didapatkan melalui perhitungan pada lembar pengurutan produksi. Penelitian diawali dengan pengumpulan data yang diperlukan, pembuatan peta proses operasi, pembuatan lembar pengurutan produksi, perhitungan jumlah mesin teoritis, perhitungan luas lantai produksi yang dibutuhkan, menghitung biaya material handling dalam Material Handling Planning Sheet. Dari perhitungan MHPS dibuat peta dari-ke biaya, inflow dan outflow. Kemudian disusun skala prioritas serta peta keterkaitan kegiatan untuk inflow dan outflow. Berdasarkan data dari skala prioritas maka disusun diagram keterkaitan kegiatannya. Kemudian dari diagram keterkaitan kegiatan yang dipilih berdasarkan minimasi kesalahan peletakan ini dibuat diagram alokasi wilayahnya. Dari diagram alokasi wilayah tersebut digambarkan aliran perpindahan materialnya yang kemudian diukur jaraknya untuk diperhitungkan biaya material handlingnya didalam Material Handling Evaluation Sheet. Analisa perbandingan terhadap tata letak lantai produksi awal dengan tata letak lantai produksi usulan adalah dari biaya material handling dan total waktu perpindahannya. Dan hasil penelitian didapatkan bahwa perusahaan perlu menambahkan 8 mesin sehingga jumlah mesin total menjadi 58 mesin dan lantai produksi yang dibutuhkanya adalah 6.932,16 m2. Diagram keterkaitan terbaik adalah berdasarkan skala prioritas outflow. Biaya material handling untuk tata letak awal adalah Rp 1.176.658,258 perhari dengan total waktu perpindahan 14,780,3 detik/ hari. Sedangkan untuk tata letak usulan didapatkan biaya material handling Rp 1.094.533,861 perhari dengan total waktu perpindahan 12.708,1 detik/ hari. Sehingga penghematan biaya material handling yang terjadi adalah Rp 82.124,397 perhari atau 6,98% dari keadaan awal, dan penghematan total waktu perpindahan adalah selama 2.072,2 detik/ hari atau 14,02% dari keadaan awal.

P PT. Indonesia Synthetic Textile Mills is a company engaged in the integrated textile industry consisting of spinning, weaving and dyeing. The products are mainly clothing materials for men and women made from synthetic blended fibers (Polyester and Rayon). The main types of fabrics produced are Regular, Weight Reduce, Pocket, ZEEONE, Epoka and Teflon High Technology. As a company whose 75% of textile production is for export to Southeast Asia, the Middle East, Europe and so on, the company strives to always achieve production targets set based on the company's budget and the number of consumer requests. A comprehensive review of the production floor layout design in the Dyeing and Finishing Department is necessary because so far the addition of machines carried out by the company is done in an empty area on the production floor without considering the proximity between machines. The purpose of this study is to determine the number of machines that need to be added for smooth production activities, minimize the distance of material flow movements so as to minimize material handling costs and movement times and provide suggestions for improving the production floor layout with the number of machines obtained through calculations on the production sequencing sheet. The study begins with collecting the necessary data, making an operational process map, making a production sequencing sheet, calculating the number of theoretical machines, calculating the required production floor area, calculating material handling costs in the Material Handling Planning Sheet. From the MHPS calculation, a map of from-to costs, inflow and outflow is made. Then a priority scale and activity relationship map for inflow and outflow are prepared. Based on the data from the priority scale, an activity relationship diagram is prepared. Then from the activity relationship diagram selected based on minimizing this placement error, an area allocation diagram is made. From the area allocation diagram, the material movement flow is depicted, then the distance is measured to calculate the material handling costs in the Material Handling Evaluation Sheet. Comparative analysis of the initial production floor layout with the proposed production floor layout is from the material handling costs and total movement time. And the results of the study found that the company needs to add 8 machines so that the total number of machines becomes 58 machines and the production floor required is 6,932.16 m2. The best relationship diagram is based on the outflow priority scale. The material handling cost for the initial layout is Rp 1,176,658,258 per day with a total movement time of 14,780.3 seconds / day. While for the proposed layout, the material handling cost is Rp 1,094,533,861 per day with a total movement time of 12,708.1 seconds / day. So the material handling cost savings that occur are Rp 82,124,397 per day or 6.98% of the initial state, and the total movement time savings are 2,072.2 seconds / day or 14.02% of the initial state.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?