DETAIL KOLEKSI

Perbandingan proses pembentukan undang-undang di parlemen indonesia dan korea selatan


Oleh : Axel Ali Putra

Info Katalog

Penerbit : FH - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2026

Pembimbing 1 : Eko Primananda

Kata Kunci : comparative law, legislation, House of Representatives (DPR), National Assembly, comparative law, I

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2026_SK_SHK_010002200223_Halaman-Judul.pdf
2. 2026_SK_SHK_010002200223_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2026_SK_SHK_010002200223_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2026_SK_SHK_010002200223_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2026_SK_SHK_010002200223_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2026_SK_SHK_010002200223_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2026_SK_SHK_010002200223_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2026_SK_SHK_010002200223_Bab-1.pdf
9. 2026_SK_SHK_010002200223_Bab-2.pdf
10. 2026_SK_SHK_010002200223_Bab-3.pdf
11. 2026_SK_SHK_010002200223_Bab-4.pdf
12. 2026_SK_SHK_010002200223_Bab-5.pdf
13. 2026_SK_SHK_010002200223_Daftar-Pustaka.pdf
14. 2026_SK_SHK_010002200223_Lampiran.pdf

U Undang-undang merupakan instrumen hukum strategis dalam negarahukum modern sebagai perwujudan kedaulatan rakyat melalui lembagaperwakilan. indonesia dan korea selatan sama-sama menganut sistempresidensial, namun memiliki perbedaan mendasar dalam desainkelembagaan dan praktik legislasi. penelitian ini mengkaji: (1)bagaimana pengaturan proses pembentukan undang-undang diparlemen indonesia dan korea selatan; serta (2) bagaimanapersamaan dan perbedaan proses pembentukan undang-undangantara dpr indonesia dan national assembly korea selatan. metodeyang digunakan adalah yuridis normatif bersifat deskriptif analitis,dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan wawancara,serta dianalisis secara kualitatif. hasil penelitian menunjukkanpersamaan: kedua negara melibatkan parlemen dan pemerintah dalaminisiatif ruu, menerapkan tahapan formal legislasi, serta mengakuipartisipasi publik secara normatif. namun terdapat perbedaanmendasar. indonesia menerapkan bikameral asimetris dengan perandpd yang terbatas, proses legislasi yang rentan kompromi politik, sertapartisipasi publik yang masih seremonial. sebaliknya, korea selatanmenjalankan sistem unikameral dengan standing committees yangkuat, didukung moleg dan nars, serta mekanisme public hearingwajib dan sistem e-petition yang mendorong keterlibatan publik secarabermakna. kesimpulannya, sistem legislasi korea selatan lebih efektif,transparan, dan partisipatif. indonesia disarankan memperkuat komisidpr, mengembangkan platform partisipasi digital, dan meningkatkankualitas dukungan riset legislatif.

S Statutes serve as strategic legal instruments in a modern state governed by the rule of law, embodying popular sovereignty through representative institutions. while both indonesia and south korea employ presidential systems, they differ fundamentally in their institutional designs and legislative practices. this study examines: (1) the regulations governing the law-making process in the parliaments of indonesia and south korea; and (2) the similarities and differences in the legislative processes between the indonesian house of representatives (dpr) and the south korean national assembly. a normative-juridical method with a descriptive-analytical approach was employed; data were gathered through literature reviews and interviews and analyzed qualitatively. the findings reveal similarities: both nations involve the parliament and the government in bill initiation, adhere to formal legislative stages, and normatively recognize public participation. however, fundamental differences exist. indonesia utilizes an asymmetric bicameral system with a limited role for the regional representative council (dpd), a legislative process susceptible to political compromise, and public participation that remains largely ceremonial. conversely, south korea operates a unicameral system featuring strong standing committees—supported by the ministry of government legislation (moleg) and the national assembly research service (nars)—as well as mandatory public hearing mechanisms and an e-petition system that foster meaningful public engagement. in conclusion, south korea’s legislative system is more effective, transparent, and participatory. it is recommended that indonesia strengthen dpr committees, develop digital participation platforms, and enhance the quality of legislative research support.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?