Analisis kualifikasi peran pelaku peserta dan kualifikasi akibat dalam tindakan pidana pengeroyokan (studi putusan nomor 508/pid.b/2023/2023/pn.smg)
Penerbit : FH - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Azmi Syahputra
Kata Kunci : Tindak Pidana Pengeroyokan, Luka Berat, Penyertaan, Pertanggungjawaban Pidana, Pasal 170 KUHP
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_SHK_010002100548_Halaman-Judul.pdf | 7 | |
| 2. | 2026_SK_SHK_010002100548_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_SHK_010002100548_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_SHK_010002100548_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_SHK_010002100548_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 6. | 2026_SK_SHK_010002100548_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_SHK_010002100548_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_SHK_010002100548_Bab-1.pdf | ||
| 9. | 2026_SK_SHK_010002100548_Bab-2.pdf |
|
|
| 10. | 2026_SK_SHK_010002100548_Bab-3.pdf |
|
|
| 11. | 2026_SK_SHK_010002100548_Bab-4.pdf |
|
|
| 12. | 2026_SK_SHK_010002100548_Bab-5.pdf | ||
| 13. | 2026_SK_SHK_010002100548_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 14. | 2026_SK_SHK_010002100548_Lampiran.pdf |
|
T Tindak pidana pengeroyokan merupakan delik kekerasan komunal yangmasih menempati urutan tinggi dalam statistik kejahatan nasional,dengan disparitas putusan yang sangat lebar antara vonis 4 bulanhingga 12 tahun penjara. penelitian ini bertujuan untuk menganalisisketepatan kualifikasi akibat yang diderita korban berdasarkan unsur-unsur delik dan kesesuaian penerapan pasal 56 kuhp dalammengkualifikasi peran terdakwa sebagai pembantu pada putusannomor 508/pid.b/2023/pn.smg. penelitian ini merupakan penelitianyuridis normatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, menggunakandata sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, sertadianalisis secara kualitatif dengan penarikan kesimpulan deduktif. hasilkajian menunjukkan bahwa kualifikasi akibat yang diderita korbansebagai luka ringan berdasarkan pasal 170 ayat (2) ke-1 kuhp telahtepat secara yuridis formal karena tidak memenuhi kriteria luka beratdalam pasal 90 kuhp, yakni tidak terdapat bahaya maut, cacatpermanen, maupun ketidakmampuan bekerja secara terus-menerus.sementara itu, penerapan pasal 56 kuhp untuk mengkualifikasi peranterdakwa sebagai pembantu juga telah sesuai dengan konseppenyertaan dalam doktrin hukum pidana karena terdakwa tidakmelakukan pelaksanaan inti kekerasan terhadap korban, melainkanmemberikan bantuan dengan menghalangi pihak yang hendakmenolong korban. penelitian ini menyimpulkan bahwa putusan hakimtelah tepat secara yuridis formal dan proporsional, meskipun masihterdapat ruang diskusi akademik mengenai batas antara pembantuandan turut serta dalam tindak pidana pengeroyokan.
T The criminal offense of *pengeroyokan* (group assault) is a form of communal violence that remains prevalent in national crime statistics, characterized by a wide disparity in sentencing—ranging from four months to twelve years of imprisonment. this study aims to analyze the accuracy of the legal classification regarding the injuries sustained by the victim based on the elements of the offense, as well as the appropriateness of applying article 56 of the criminal code (*kuhp*) to classify the defendant\\\'s role as an accomplice (*pembantu*) in court decision number 508/pid.b/2023/pn.smg. employing a normative-juridical method with a descriptive-analytical approach, the study utilizes secondary data—comprising primary, secondary, and tertiary legal sources—and conducts a qualitative analysis leading to deductive conclusions. the findings indicate that classifying the victim\\\'s injuries as \\\"minor injuries\\\" under article 170 paragraph (2) point 1 of the criminal code was legally sound, as the injuries did not meet the criteria for \\\"serious injuries\\\" defined in article 90 of the criminal code (i.e., there was no life-threatening danger, permanent disability, or continuous inability to work). furthermore, the application of article 56 of the criminal code to classify the defendant as an accomplice aligns with the concept of criminal participation (*penyertaan*) in criminal law doctrine; the defendant did not personally commit the core act of violence against the victim but instead provided assistance by obstructing those attempting to aid the victim. the study concludes that the judicial decision was legally sound and proportionate, notwithstanding the scope for academic debate regarding the distinction between aiding (*pembantuan*) and co-participation (*turut serta*) in the offense of group assault.