Usulan perencanaan agregat dengan menggunakan fuzzy linier programming dan pembuatan jadwal induk produksi di PT. Khong Guan Biscuit Factory Indonesia, Ltd
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2002
Pembimbing 1 : Nora Azmi
Subyek : Production scheduling;Manufacturing resource planning;Industrial management
Kata Kunci : aggregate planning, fuzzy linear programming, master production schedule, PT. Khong Guan Biscuit Fac
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2002_TA_STI_06398127_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2002_TA_STI_06398127_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-5_Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 8. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-6_Analisis-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 9. | 2002_TA_STI_06398127_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | ||
| 10. | 2002_TA_STI_06398127_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 11. | 2002_TA_STI_06398127_Lampiran.pdf |
|
P PT. Khong Guan Biscuit Factory Indonesia, Ltd merupakan perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan. Perkembangan konsumsi biscuit sangat dipengaruhi oleh perekonomian, daya beli masyarakat dan faktor lain seperti gaya hidup. Dengan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih memilih sesuatu yang praktis dan efisien menjadi faktor pendorong pertumbuhan industri ini. Dengan perkembangan dalam industri biscuit, ditemui semakin bervariasinya jenis, rasa, kemasan dan merek baik dalam dan luar negeri. Sehingga persaingan di dalam industri ini menjadi semakin ketat. Untuk menghadapi persaingan diantara perusahaan makanan ringan lainnya, perlu dilakukan perencanaan untuk memenuhi total kebutuhan permintaan dari masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang ada baik material maupun tenaga keija. Hal ini dilakukan dengan melakukan peramalan terhadap permintaan untuk periode ke depannya, dan untuk mengetahui biaya yang akan dikeluarkan dilakukan dengan perencanaan produksi agregat. Perencanaan produksi agregat ini dengan mudah dapat dilakukan jika semua variabel yang ada dalam perumusannya merupakan sesuatu yang pasti nilainya. Tapi bagaimana jika ada beberapa variabel dalam perhitungannya yang dapat mengalami fluktuasi sesuai dengan perubahan keadaan. Begitu pun dengan penggunaaan waktu yang tidak optimal yang dilakukan oleh pekerja sehingga produksi tidak maksimal. Selain itu, PT. Khong Guan Biscuit ini juga tidak melakukan pembuatan Jadwal Induk Produksi, tetapi produksi langsung menggunakan data peramalan. Dengan menggunakan fuzzy linier programming, permasalahan tersebut dapat terselesaikan karena fuzzy linier programming in merupakan suatu sistem yang dapat memodelkan keadaan yang sebenamya dan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi pada beberapa variabel. Setelah dilakukan perencanaan produksi agregat, dilakukan pula perhitungan disagregasi, karena untuk membuat JIP diperlukan perhitungan tersebut. Hasil dari perencanaan agregat dengan menggunakan metode fuzzy linier programming dibandingkan dengan perencanaan agregat dengan metode linier programming biasa dan data agregat dari pihak perusahaan. Tetapi pada perhitungan disagregat tetap diambil dari data fuzzy linier programming karena metode ini dapat mengantisipasi permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan. Perhitungan perencanaan agregat dilakukan terhadap 50 item dan 3 famili yaitu famili Crackers, Hard Biscuit dan Wafer. Famili Crackers mencakup 16 item, Hard Biscuit 24 item dan Wafer 10 item. Perencanaan ini dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan, yaitu bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September. Hasil dari perencanaan avegat adalah biaya produksi sebesar Rp125.248.740,86. Perencanaan agregat yang diperoleh dari perusahaan adalah sebesar Rp 131.511.177,91 dan basil perencanaan agregat dengan menggunakan metode Linier Programming biasa adalah sebesar Rp 111.611.979,37. Perhitungan disagregasi famili dilakukan terhadap hasil agregat dan disagregasi item dilakukan dengan menggunakan program Delphi 5 yang dapat digunakan untuk 75 produk, 75 famili dan 75 periode perencanaan. Dan hasil disagregasi item, terdapat item yang tidak diproduksi pada periode April yaitu produk Blitz Real Cheese S. Cr. Hal ini berarti pada bulan April, item Blitz Real Cheese S. Cr ini tidak diproduksi. Sedangkan untuk famili lainnya pada periode yang sama semua item diproduksi dan begitu juga pada periode lainnya semua item diproduksi untuk semua famili yang ada
P PT. Khong Guan Biscuit Factory Indonesia, Ltd. is a company operating in the snack food sector. Biscuit consumption trends are heavily influenced by the economy, public purchasing power, and factors such as lifestyle. A shift in consumer patterns—favoring convenience and efficiency—has driven the industry's growth. As the biscuit industry evolves, there is an increasing variety of types, flavors, packaging, and brands—both domestic and international—leading to intensified competition. To compete effectively with other snack food companies, it is necessary to plan how to meet total consumer demand using available resources, including materials and labor. This involves forecasting future demand and using aggregate production planning to estimate associated costs. While aggregate production planning is straightforward when all variables have fixed values, challenges arise when certain variables fluctuate due to changing conditions. Inefficiencies in labor time usage can also prevent production from reaching its full potential. Furthermore, PT. Khong Guan does not currently create a Master Production Schedule (MPS); instead, it bases production directly on forecast data. Fuzzy linear programming offers a solution to these issues, as it can model real-world conditions and anticipate fluctuations in specific variables. Following aggregate production planning, disaggregation calculations are performed, as they are essential for creating the MPS. The results obtained via fuzzy linear programming are compared with those from standard linear programming and the company's own aggregate data; however, the disaggregation calculations rely on the fuzzy linear programming results, as this method effectively addresses the challenges the company faces. The aggregate planning calculations cover 50 items across three product families: Crackers, Hard Biscuits, and Wafers. The Crackers family comprises 16 items, the Hard Biscuit family 24 items, and the Wafer family 10 items. This planning process covered a six-month period: April, May, June, July, August, and September. The resulting aggregate plan yielded a production cost of Rp125,248,740.86. In comparison, the company's own aggregate plan cost Rp131,511,177.91, while the plan derived using the standard Linear Programming method cost Rp111,611,979.37. Family disaggregation was performed on the aggregate results, and item disaggregation was carried out using Delphi 5 software—a tool capable of handling up to 75 products, 75 families, and 75 planning periods. The item disaggregation results revealed one item that was not produced during the April period: the Blitz Real Cheese S. Cr product. This indicates that the Blitz Real Cheese S. Cr item was not manufactured in April. Conversely, for all other families during that same period—and indeed across all other periods—every item was produced.