Usulan perencanaan produksi dan pengendalian persediaan bahan baku produk rinsoantinoda pada PT. Unilever Indonesia Tbk, NSD Factory
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1998
Pembimbing 1 : Docki Saraswati
Subyek : Production planning;Production standards;Materials handling;Industrial engineering
Kata Kunci : production planning, inventory control, raw materials, products, Rinso Anti-Stain, PT. Unilever Indo
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 1998_TA_STI_06393322_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 1998_TA_STI_06393322_Lembar-Pengesahan.pdf | ||
| 3. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-1_Pendahuluan.pdf | ||
| 4. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-5_Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 8. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-6_Analisa-Hasil.pdf |
|
|
| 9. | 1998_TA_STI_06393322_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf | 4 | |
| 10. | 1998_TA_STI_06393322_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 11. | 1998_TA_STI_06393322_Lampiran.pdf |
|
P PT. Unilever Indonesia Tbk pada .pabrik NSD (Non Soap Detergent) yang bergerak di bidang industri manufaktur dengan produksi detergent yaitu Rinso Antinoda, Rinso Warna, Rinso Matic dan Sunlight bubuk. Dalam tugas akhir ini penulis meneliti jenis Rinso Antinoda yang merupakan jenis Rinso dengan permintaan paing besar dan pemakaian kapasitas pabrik hampir sekitar 90% terpakai untuk memproduksi Rinso jenis ini. Saat ini yang menjadi masalah adalah adanya perbedaan antara rencana produksi jangka panjang yang dibuat oleh Planner dengan hasil penjualan sehingga perlu dibuat kembali oleh pihak produksi dalam periode mingguan berdasarkan penjualan dalam jangka waktu 6 bulan untuk setiap periodenya da.lam mengantisipasi permintaan produksi. Dengan adanya perubahan dalam perencanaan produksi mengakibatkan perlunya memperkirakan kebutuhan bahan baku untuk periode perencanaan yang akan dibuat dalam kegiatan produksi. Untuk memecahkan masalah diatas adalah dengan melakukan perencanaan produksi yang memberikan hasil yang optimal. Langkah pertama dalam melakukan perencanaan produksi adalah dengan melakukan peramalan permintaan Rinso Antinoda untuk tiap itemnya dengan berdasarkan data penjualan dari bulan januari s/d Juni 1998. Untuk semua item kemasan tersebut, metode peramalan yang dipilih setelah dilakukan beberapa kali verifikasi peramalan berdasarkan pada nilai MSE (Mean Square Error) terkecil berikutnya, didapat yaitu metode Single Eksponential Smoothing a=0,6 untuk sachet 36 gr, Single Moving Average N=4 untuk sachet 200 gr, Single Eksponential Smoothing a=0,1 untuk polybag 500 gr dan a=0,5 polybag 1000 gr dan Single Moving Average N=6 untuk polybag 2000 gr. Dari hasil peramalan tersebut kemudian dibuat perencanaan agregatnya yang menghasilkan jumlah yang akan diproduksi dalam unit (ton) untuk setiap periode perencanaan sebanyak 26 periode dengan menggunakan metode Chase Strategy dan biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 40.019.738.200,-. Selanjutnya dilakukan perencanaan disagregat dengan menggunakan pendekatan HPP (Hierarchical Production Planning) oleh Hax dan Bitran dengan Reguler Knapsack Method (RKM). Hasil dari disagregasi menjadi Jadwal Induk Produksi (ET), kemudian diuji pada kapasitas produksi dan pada metode BOL (Bill Of Labor) dan hasilnya layak untuk digunakan. Dengan Jadwal Induk produksi (JIP) yang diusulkan, perbedaan kuantitas produksi dengan hasil penjualan dapat diperkecil. JIP yang layak, menjadi input perencanaan persediaan bahan baku/material. Metode persediaan yang digunakan adalah metode EOQ (Economic Order Quantity) dan POQ (Period Order Quantity). Berdasarkan hasil perhitungan biayanya, didapat bahwa dengan menggunakan metode EOQ biaya persediaan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan metode POQ. Biaya yang dihasilkan dengan menggunakan metode EOQ untuk tiap material adalah sebagai berikut : untuk material A Rp.14.751.966, B Rp. 9.956.400, C Rp. 1.351.787, D Rp. 3.442.153, E Rp. 19.250.656, F Rp. 5.728.365, G Rp. 13.020.915, H Rp. 35.507.452, I Rp. 29.375.000, K Rp.11.235.607, L Rp. 12.224.800, M Rp. 54.383.106, N Rp. 63.891.423.
P PT. Unilever Indonesia Tbk in the NSD (Non Soap Detergent) factory which is engaged in the manufacturing industry with the production of detergents namely Rinso Antinoda, Rinso Warna, Rinso Matic and Sunlight powder. In this final assignment the author examines the type of Rinso Antinoda which is the type of Rinso with the greatest demand and the use of factory capacity is almost 90% used to produce this type of Rinso. Currently the problem is the difference between the long-term production plan made by the Planner with the sales results so that it needs to be remade by the production party in a weekly period based on sales within a period of 6 months for each period in anticipating production demand. With changes in production planning resulting in the need to estimate the need for raw materials for the planning period that will be made in production activities. To solve the above problem is to carry out production planning that provides optimal results. The first step in production planning is to forecast demand for Rinso Antinoda for each item based on sales data from January to June 1998. For all packaging items, the forecasting method chosen after several forecast verifications based on the next smallest MSE (Mean Square Error) value, is the Single Exponential Smoothing method a = 0.6 for 36 gr sachets, Single Moving Average N = 4 for 200 gr sachets, Single Exponential Smoothing a = 0.1 for 500 gr polybags and a = 0.5 for 1000 gr polybags and Single Moving Average N = 6 for 2000 gr polybags. From the forecasting results, an aggregate plan is then made which produces the amount to be produced in units (tons) for each planning period of 26 periods using the Chase Strategy method and the costs incurred are Rp. 40,019,738,200,-. Next, disaggregation planning is carried out using the HPP (Hierarchical Production Planning) approach by Hax and Bitran with the Regular Knapsack Method (RKM). The results of the disaggregation become the Master Production Schedule (ET), then tested on production capacity and the BOL (Bill Of Labor) method and the results are suitable for use. With the proposed Master Production Schedule (JIP), the difference in production quantity with sales results can be minimized. A feasible JIP becomes input for raw material inventory planning. The inventory methods used are the EOQ (Economic Order Quantity) and POQ (Period Order Quantity) methods. Based on the results of the cost calculation, it was found that using the EOQ method resulted in smaller inventory costs compared to the POQ method. The costs generated using the EOQ method for each material are as follows: for material A Rp. 14,751,966, B Rp. 9,956,400, C Rp. 1,351,787, D Rp. 3,442,153, E Rp. 19,250,656, F Rp. 5,728,365, G Rp. 13,020,915, H Rp. 35,507,452, I Rp. 29,375,000, K Rp. 11,235,607, L Rp. 12,224,800, M Rp. 54,383,106, N Rp. 63,891,423.