DETAIL KOLEKSI

Usulan perbaikan tata letak pabrik dan pengukuran produktivitas (studi perbandinganPT. Cakra Agung terhadap PT. Marino Pelita Indonesia)


Oleh : Rahmi Maulidya

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 1998

Pembimbing 1 : Didien Suhardini

Subyek : Plant layout;Inventory control;Industrial management;Production control

Kata Kunci : factory layout, productivity measurement (comparative study of PT. Cakra Agung and PT. Marino Pelita

Status Posting : Published

Status : Tidak Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 1998_TA_STI_06393379_Halaman-Judul.pdf
2. 1998_TA_STI_06393379_Lembar-Pengesahan.pdf
3. 1998_TA_STI_06393379_Bab-1_Pendahuluan.pdf
4. 1998_TA_STI_06393379_Bab-2_Landasan-Teori.pdf
5. 1998_TA_STI_06393379_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf
6. 1998_TA_STI_06393379_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf
7. 1998_TA_STI_06393379_Bab-5_Pengolahan-Data.pdf
8. 1998_TA_STI_06393379_Bab-6_Usulan-Perbaikan.pdf
9. 1998_TA_STI_06393379_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf
10. 1998_TA_STI_06393379_Daftar-Pustaka.pdf
11. 1998_TA_TI_06393379_Lampiran.pdf

P PT. Cakra Agung merupakan perusahaan yang memproduksi sepatu ABRI untuk memenuhi pesanan Badan Perbekalan (BABEK) ABRI. Produk yang dihasilkan adalah Sepatu Dinas Harian(SDH). dan Sepatu Dinas Lapangan(SDL) disamping produk-produk lainnya. Dalam usahanya untuk meningkatkan kemampuannya agar sej ajar dengan perusahaan yang lebih maju, dilakukan studi perbandingan terhadap perusahaan sejenis yaitu PT. Marino Pelita Indonesia, yang juga memproduksi Sepatu Dinas Harian (SDH) dan Sepatu Dinas Lapangan (SDL) disamping produk lainnya. Masalah yang terjadi adalah adanya perbedaan tata letak pabrik antara kedua .perusahaan dimana pada PT. Calera Agung mesin-mesin dan peralatan kerja ditempatkan tanpa memperhatikan tata letak pabrik yang baik akibatnya aliran produksi menjadi tidak teratur dan pemakaia. n peralatan menjadi tidak optimal. Sedangkan pada perusahaan pembanding, tata letaknya sudah disusun sesuai jenis mesin dan urutan kegiatan produksi. Perbandingan dilakukan antara kedua perusahaan untuk membandingkan masing-masing tata letak pabriknya melalui jumlah mesin yang diperlukan untuk memenuhi pesanan rata-rata perbulan dan diketahui bahwa PT. Calera Agung hares menambah mesin Open sebanyak 3 buah, mesin pasang mata ayam, meja untuk pasang sol dalam, meja periksa. dan meja packing masing-masing sebanyak 1 buah. Untuk PT. Marino Pelita Indonesia kekurangan mesin Open 3 buah, mesin pasang mata ayam 2 buah, 1 buah mesin Moulding, meja untuk memberi perekat, meja untuk pasang pengeras, dan meja packing masing-masing 1 buah. Kekurangan tersebut selama ini ditangani dengan mengambil sub kontrak pada perusahaan lain,. dan kelebihan mesin digunakan sebagai cadangan bila ada mesin yang rusak. Sedangkan perbandingan biaya material handling yang dikeluarkan masing-masing perusahaan adalah Rp. 704,75 .untuk PT. Cakra Agung dan Rp. 865,86 untuk PT. Marino Pelita Indonesia. Perbandingan juga dilakukan terhadap produktivitas masing-masing perusahaan dengan menggunakan metode Inter Firm Comparison(1FC) untuk . melihat pengaruh tata letak pabrik terhadap produktivitas dan untuk melihat perusahaan .mana yang lebih produktif. Pengukuran produktivitas dilakukan dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1997. Pengukuran produktivitas yang digunakan adalah produktivitas parsial dan individu berdasarkan data yang tersedia. Hasil pengukuran produktivitas perusahaan pembanding untuk tingkat produktivitas parsial dan produktivitas individu secara rata-rata lebih besar dibandingkan PT. Cakra Agung. Namun dilihat dari laju pertumbuhan produksi PT. Cakra Agung adalah 17,04 % sedangkan PT. Marino 14,04 %. Usulan perbaikan tata letak pabrik dilakukan pada PT. Cakra Agung yang dibuat berdasarkan jumlah mesin yang ada scat ini ditambah dengan kekurangan mesin open dan mesin pasang mata ayam. Usulan dibuat dalam bentuk AAD(Area Allocation Diagram), dan luas totalnya berubah dari 471,31 meter persegi menjadi 560,01 meter persegi.

P PT. Cakra Agung is a company that produces ABRI shoes to fulfill orders from the ABRI Supply Agency (BABEK). The products produced are Daily Service Shoes (SDH) and Field Service Shoes (SDL) in addition to other products. In an effort to improve its capabilities to be on par with more advanced companies, a comparative study was conducted with a similar company, namely PT. Marino Pelita Indonesia, which also produces Daily Service Shoes (SDH) and Field Service Shoes (SDL) in addition to other products. The problem that occurred was the difference in factory layout between the two companies where at PT. Calera Agung the machines and work equipment were placed without paying attention to a good factory layout resulting in irregular production flow and suboptimal use of equipment. While at the comparison company, the layout had been arranged according to the type of machine and the sequence of production activities. A comparison was conducted between the two companies to compare each factory layout through the number of machines needed to fulfill the average monthly order and it was found that PT. Calera Agung must add 3 Open machines, a chicken eye installation machine, a table for installing insoles, an examination table, and 1 packing table each. For PT. Marino Pelita Indonesia, there is a shortage of 3 Open machines, 2 chicken eye installation machines, 1 Molding machine, a table for applying adhesive, a table for installing hardener, and 1 packing table each. These shortages have been handled by taking subcontracts to other companies, and the excess machines are used as reserves if any machine is damaged. Meanwhile, the comparison of material handling costs incurred by each company is Rp. 704.75 for PT. Cakra Agung and Rp. 865.86 for PT. Marino Pelita Indonesia. Comparisons are also made on the productivity of each company using the Inter Firm Comparison (1FC) method to see the effect of factory layout on productivity and to see which company is more productive. Productivity measurements were carried out from 1993 to 1997. The productivity measurements used were partial and individual productivity based on available data. The results of the comparison company's productivity measurement for partial productivity levels and individual productivity were on average greater than PT. Cakra Agung. However, seen from the production growth rate of PT. Cakra Agung is 17.04% while PT. Marino is 14.04%. Proposals for factory layout improvements were made at PT. Cakra Agung which were made based on the number of existing machines, this scat added with the lack of open machines and chicken eye installation machines. The proposal was made in the form of AAD (Area Allocation Diagram), and the total area changed from 471.31 square meters to 560.01 square meters.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?