Perbandingan mekanisme penyelesaian sengketa pemutusan hubungan kerja (phk) di indonesia dan malaysia
Penerbit : FH - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Yogo Pamungkas
Kata Kunci : Termination of Employment, Industrial Relations Dispute(s), Indonesia, Malaysia, Comparative Law
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_SHK_010002200218_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2026_SK_SHK_010002200218_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_SHK_010002200218_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_SHK_010002200218_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_SHK_010002200218_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 6. | 2026_SK_SHK_010002200218_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_SHK_010002200218_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_SHK_010002200218_Bab-1.pdf | ||
| 9. | 2026_SK_SHK_010002200218_Bab-2.pdf |
|
|
| 10. | 2026_SK_SHK_010002200218_Bab-3.pdf |
|
|
| 11. | 2026_SK_SHK_010002200218_Bab-4.pdf |
|
|
| 12. | 2026_SK_SHK_010002200218_Bab-5.pdf | ||
| 13. | 2026_SK_SHK_010002200218_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 14. | 2026_SK_SHK_010002200218_Lampiran.pdf |
|
P Pemutusan hubungan kerja dapat menimbulkan perselisihan mengenai alasan, prosedur, dan pemenuhan hak pekerja. penelitian ini membahas dua permasalahan, yaitu: (1) persamaan dan perbedaan mekanisme penyelesaian sengketa pemutusan hubungan kerja di indonesia dan malaysia; serta (2) kelebihan dan kekurangan mekanisme penyelesaian sengketa tersebut di kedua negara. penelitian menggunakan metode hukum normatif yang bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan perbandingan hukum. bahan hukum dikumpulkan melalui studi kepustakaan, dianalisis secara kualitatif, dan ditarik kesimpulan secara deduktif. analisis dilakukan terhadap putusan nomor 2/pdt.sus-phi/2024/pn smg, putusan nomor 78/pdt.sus-phi/2021/pn smr juncto putusan mahkamah agung nomor 1034 k/pdt.sus-phi/2022, perkara milan auto sdn bhd v. wong seh yen, serta perkara hotel jaya puri bhd. v. national union of hotel, bar & restaurant workers & anor. hasil penelitian menunjukkan bahwa indonesia dan malaysia sama-sama mengutamakan penyelesaian nonlitigasi sebelum pemeriksaan oleh lembaga adjudikatif. indonesia menggunakan perundingan bipartit, mediasi atau konsiliasi, dan pengadilan hubungan industrial dengan penekanan pada kepastian prosedur dan hak normatif pekerja. malaysia menggunakan pengajuan representasi, conciliation, dan industrial court dengan prinsip just cause or excuse. sistem indonesia memiliki struktur yang jelas dan berjenjang, tetapi masih menghadapi formalitas prosedural, proses yang panjang, lemahnya mediasi, dan kendala pelaksanaan putusan. sistem malaysia lebih kuat dalam pengujian substantif dan pemulihan hak pekerja, tetapi masih menghadapi hambatan akses serta ketergantungan pada pertimbangan industrial court.
T Termination of employment can give rise to disputes regarding the reasons, procedures, and fulfillment of workers\\\' rights. this research discusses two problems, namely: (1) the similarities and differences in the dispute settlement mechanisms for termination of employment in indonesia and malaysia; and (2) the strengths and weaknesses of these dispute settlement mechanisms in both countries. the research employs a descriptive-analytical normative legal method, using statutory, conceptual, case, and comparative law approaches. legal materials were collected through library research, analyzed qualitatively, and concluded deductively. the analysis was conducted on decision number 2/pdt.sus-phi/2024/pn smg, decision number 78/pdt.sus-phi/2021/pn smr *juncto* supreme court decision number 1034 k/pdt.sus-phi/2022, the case of *milan auto sdn bhd v. wong seh yen*, and the case of *hotel jaya puri bhd. v. national union of hotel, bar & restaurant workers & anor*. the results show that both indonesia and malaysia prioritize non-litigation settlements prior to examination by adjudicative bodies. indonesia utilizes bipartite negotiations, mediation or conciliation, and the industrial relations court with an emphasis on procedural certainty and workers\\\' normative rights. malaysia utilizes the submission of representations, conciliation, and the industrial court based on the principle of *just cause or excuse*. the indonesian system has a clear and hierarchical structure but still faces procedural formalities, lengthy processes, weak mediation, and obstacles in executing decisions. the malaysian system is stronger in substantive review and the restoration of workers\\\' rights, but still faces accessibility barriers and dependence on the industrial court\\\'s discretion.