Analisis hukum acara terhadap putusan pengadilan tindak pidana korupsi yang tidak memuat pertimbangan yang cukup (onvoldoende gemotiveerd) (studi putusan: no. 26/pid.sus-tpk/2023/pn smg)
Penerbit : FH - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Ramadhana Anindyajati
Kata Kunci : Insufficient Legal Reasoning, Corruption Crime, Sentencing Guidelines
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_SHK_010002200351_Halaman-Judul.pdf | ||
| 2. | 2026_SK_SHK_010002200351_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_SHK_010002200351_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_SHK_010002200351_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_SHK_010002200351_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 6. | 2026_SK_SHK_010002200351_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_SHK_010002200351_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_SHK_010002200351_Bab-1.pdf | ||
| 9. | 2026_SK_SHK_010002200351_Bab-2.pdf |
|
|
| 10. | 2026_SK_SHK_010002200351_Bab-3.pdf |
|
|
| 11. | 2026_SK_SHK_010002200351_Bab-4.pdf |
|
|
| 12. | 2026_SK_SHK_010002200351_Bab-5.pdf | ||
| 13. | 2026_SK_SHK_010002200351_Daftar-Pustaka.pdf | ||
| 14. | 2026_SK_SHK_010002200351_Lampiran.pdf |
|
P Putusan pengadilan dalam perkara tindak pidana korupsi wajib memuat pertimbangan hukum yang lengkap dan memadai sebagai wujud penerapan asas keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan. namun, dalam praktik peradilan masih ditemukan putusan yang tidak memuat pertimbangan hukum yang cukup (onvoldoende gemotiveerd), khususnya terkait penerapan pedoman pemidanaan. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah putusan pengadilan tindak pidana korupsi nomor 26/pid.sus-tpk/2023/pn smg telah memenuhi aspek hukum formil serta apakah putusan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai putusan yang tidak memuat pertimbangan yang cukup berdasarkan peraturan mahkamah agung nomor 1 tahun 2020. metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan sifat deskriptif analitis, menggunakan bahan hukum primer dan sekunder. hasil penelitian menunjukkan bahwa majelis hakim dalam putusan tersebut tidak menjadikan peraturan mahkamah agung nomor 1 tahun 2020 sebagai dasar pertimbangan pemidanaan, meskipun terdakwa didakwa berdasarkan pasal 2 undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi. hal ini menyebabkan putusan tersebut berpotensi dikualifikasikan sebagai putusan yang tidak memuat pertimbangan hukum yang cukup, sehingga berimplikasi pada terganggunya prinsip proporsionalitas dan konsistensi pemidanaan dalam perkara korupsi.
C Court decisions in corruption crime cases are required to contain complete and adequate legal reasoning as a manifestation of the principles of justice, legal certainty, and expediency. however, in judicial practice, there are still court decisions that fail to provide sufficient legal reasoning (onvoldoende gemotiveerd), particularly with regard to the application of sentencing guidelines. this research aims to analyze whether the corruption crime court decision number 26/pid.sus-tpk/2023/pn smg has fulfilled the requirements of formal legal aspects and whether the decision can be classified as a judgment lacking sufficient legal reasoning based on supreme court regulation number 1 of 2020. the research employs a normative juridical method with a descriptive-analytical approach, utilizing primary and secondary legal materials. the results indicate that the panel of judges in the examined decision did not apply supreme court regulation number 1 of 2020 as a basis for sentencing considerations, despite the defendant being charged under article 2 of the law on the eradication of corruption crimes. consequently, the decision has the potential to be classified as a judgment lacking sufficient legal reasoning, which may undermine the principles of proportionality and consistency in sentencing in corruption cases.