DETAIL KOLEKSI

Evaluasi penyebab dan penanggulangan permasalahan stuck pipe pada lapangan pengembangan x, sumatera utara


Oleh : Muhammad Dzaki Arkaan

Info Katalog

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2026

Pembimbing 1 : Bayu Satiyawira

Pembimbing 2 : Cahaya Rosyidan

Kata Kunci : stuck pipe; stratigraphy; cutting; Wellplan; recommendation

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2026_SK_STP_071002300037_Halaman-Judul.pdf
2. 2026_SK_STP_071002300037_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2026_SK_STP_071002300037_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2026_SK_STP_071002300037_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2026_SK_STP_071002300037_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2026_SK_STP_071002300037_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2026_SK_STP_071002300037_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2026_SK_STP_071002300037_Bab-1.pdf
9. 2026_SK_STP_071002300037_Bab-2.pdf
10. 2026_SK_STP_071002300037_Bab-3.pdf
11. 2026_SK_STP_071002300037_Bab-4.pdf
12. 2026_SK_STP_071002300037_Bab-5.pdf
13. 2026_SK_STP_071002300037_Daftar-Pustaka.pdf
14. 2026_SK_STP_071002300037_Lampiran.pdf

K Keperluan indonesia terhadap sumber energi fosil (energi tidak terbarukan) masih tergolong cukup tinggi karena sumber energi fosil masih digunakan untuk keperluan mendasar dalam kehidupan sehari – hari. oleh karena itu, kegiatan produksi dan eksploitasi cadangan hidrokarbon masih gencar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional terhadap sumber energi. untuk sumur hidrokarbon yang sudah diproduksikan akan dilaksanakan tahap pengembangan dan tahap optimasi supaya menuhun terjadinya penurunan produksi dari sumur. langkah lain untuk memenuhi kebutuhan sumber energi yaitu dilakukan eksplorasi dan pemboran guna menemukan cadangan hidrokarbon yang dapat diperjualbelikan. namun, kegiatan eksplorasi dan pemboran tidaklah mudah dan murah, melainkan banyak kajian yang harus dilakukan terlebih dahulu dan biaya yang tinggi. khususnya pada tahap pemboran, terdapat masalah yang harus ditanggulangi secara cepat dan tepat yaitu terkait permasalahan rangkaian pemboran terjepit (stuck pipe) di lubang sumur. terdapat dua jenis stuck pipe yaitu differential sticking dan mechanical sticking. terdapat banyak faktor yang menyebabkan rangkaian pipa terjepit sebagaimana yang akan dibahas pada proposal ini. oleh karena itu, penanggulangan harus dilakukan dengan mengevaluasi segala aspek yang kemungkinan akan terjadi sehingga permasalahan rangkaian pipa terjepit dapat dicegah atau kalau sudah terjadi dapat ditanggulangi secepat mungkin. untuk kasus stuck pipe kali ini berlokasi di sumatera utara dengan tujuan pemboran untuk optimasi produksi minyak. lapangan “x” ini memiliki target kedalaman sekitar 1300 mmd dan dilakukan pemboran sumur baru di dua titik yang berbeda dengan dua trayek lubang bor yaitu 12,25” dan 8,5”. sumur x1 mengalami stuck pipe pada kedalaman 1244 – 1285 mmd dan sumur x2 tidak terjadi stuck pipe. evaluasi dilakukan mulai dari analisis pengangkatan cutting, analisis geometri lubang bor, dan analisis differential pressure. ketiga analisis tersebut tidak menunjukkan anomali sehingga evaluasi dilanjutkan dengan analisis lanjutan berupan analisis stratigrafi, analisis torque and drag, dan pembacaan pada history pemboran menggunakan bantuan software wellplan dan compass. analisis stratigrafi dilakukan dengan melihat formasi yang ditembus saat pemboran berlangsung dan diperoleh bahwa pada kedalaman stuckpipe terjadi, formasi masih sama yaitu pada formasi keutapang sehingga perbedaan atau transisi formasi batuan tidak menyebabkan stuck pipe. analisis dilanjutkan dengan membandingkan torsi yang ditunjukkan oleh bit secara real time dan pada rencana yang telah didesain disoftware. hasil menunjukkan terjadinya peningkatan torsi yang lumayan tinggi pada kedalaman sebelum terjadinya stuck pipe namun dari sisi hole cleaning, penangkatan cutting tidak bermasalah. sehingga, dapat disimpulkan permasalahan stuck pipe ini disebabkan oleh hole pack – off yang disebabkan juga oleh kegiatan tripping in/out yang sering berdasarkan dari data history pemboran yang didapatkan sehingga kestabilan lubang bor terganggu. rekomendasi pembebasan bha dari lubang bor dimulai dari yang paling ringan yaitu work on pipe dengan penambahan tegangan bha yang dilakukan secara bertahap diikuti dengan sirkulasi lumpur pemboran yang ditingkatkan sirkulasinya secara bertahap. jika upaya pembebasan tidak berhasil, maka dilanjutkan dengan upaya pembebasan berupa jarring up dengan kekuatan yang diberikan sebesar 90 klbs menurut rekomendasi software. usaha paling terakhir yang dapat dilakukan untuk membebeskan bha yaitu pemutusan rangkaian (back-off) dengan kekuatan batas aman sebesar 190 klbs. mitigasi berikutnya yang dilakukan untuk meminimalisir kerugian yaitu dilakukannya fishing pada komponen bha yang tertinggal di lubang bor. penutupan lubang bor diperlukan jika trayek bor tersebut tidak dimungkinkan untuk ditembus kembali dan dilakukan side track.

I Indonesia\\\'s reliance on fossil energy (non-renewable energy) remains considerably high, as it is still utilized for fundamental daily needs. consequently, production and exploitation activities of hydrocarbon reserves are still aggressively pursued to meet national energy demands. for existing hydrocarbon wells, development and optimization phases are implemented to mitigate production decline. another step to meet energy demands is conducting exploration and drilling to discover commercial hydrocarbon reserves. however, exploration and drilling activities are neither straightforward nor low-cost; rather, they require extensive preliminary studies and high capital investment. particularly during the drilling phase, there are challenges that must be addressed swiftly and accurately, specifically regarding stuck pipe issues in the wellbore. there are two types of stuck pipe: differential sticking and mechanical sticking. numerous factors can cause a stuck pipe, as will be discussed in this proposal. therefore, mitigation must be carried out by evaluating all potential aspects so that stuck pipe incidents can be prevented, or resolved as quickly as possible if they occur. the stuck pipe case in this study is located in north sumatra, where drilling was conducted for oil production optimization. field \\\"x\\\" has a target depth of approximately 1300 mmd, and new well drilling was performed at two different locations with two hole sections: 12.25” and 8.5”. well x1 experienced a stuck pipe at a depth of 1244 – 1285 mmd, while well x2 did not experience any stuck pipe. the evaluation began with cutting transport analysis, wellbore geometry analysis, and differential pressure analysis. none of these three analyses indicated anomalies; hence, the evaluation proceeded with advanced analyses, including stratigraphic analysis, torque and drag analysis, and drilling history reviews utilizing wellplan and compass software. stratigraphic analysis was conducted by observing the formations penetrated during drilling, which revealed that at the depth where the stuck pipe occurred, the formation remained the same—specifically within the keutapang formation—indicating that rock formation transitions were not the cause of the stuck pipe. the analysis continued by comparing the real-time torque exhibited by the bit against the planned design in the software. the results showed a fairly high increase in torque at depths prior to the stuck pipe incident; however, from a hole cleaning perspective, cutting transport was unproblematic. thus, it can be concluded that this stuck pipe issue was caused by a hole pack-off, which was further triggered by frequent tripping in/out activities based on the obtained drillinghistory data, thereby compromising wellbore stability. recommendations for freeing the bottom hole assembly (bha) from the wellbore start with the mildest method: working the pipe by incrementally increasing bha tension, followed by a gradual increase in drilling mud circulation. if these freeing attempts are unsuccessful, the next step involves jarring up with an applied force of 90 klbs, as recommended by the software. the absolute last resort to free the bha is backing-off the string, with a safe operating limit of 190 klbs. subsequent mitigation to minimize losses includes conducting fishing operations for the bha components left in the wellbore. well abandonment or plugging is required if the wellbore trajectory is no longer penetrable, followed by sidetracking.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?