Analisis perbandingan penyelesaian perkara kepailitan menurut sistemhukum indonesia dan malaysia
Penerbit : FH - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2026
Pembimbing 1 : Ning Adiasih
Kata Kunci : Bankruptcy Law, Civil Procedure Law, Comparative Law, Suspension of Debt Payment Obligations (PKPU),
Status Posting : Published
Status : Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 2026_SK_SHK_010002200077_Halaman-Judul.pdf | 9 | |
| 2. | 2026_SK_SHK_010002200077_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf | 1 | |
| 3. | 2026_SK_SHK_010002200077_Surat-Hasil-Similaritas.pdf | 1 | |
| 4. | 2026_SK_SHK_010002200077_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf | 1 | |
| 5. | 2026_SK_SHK_010002200077_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 6. | 2026_SK_SHK_010002200077_Pernyataan-Orisinalitas.pdf | 1 | |
| 7. | 2026_SK_SHK_010002200077_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf | 1 | |
| 8. | 2026_SK_SHK_010002200077_Bab-1.pdf | 20 | |
| 9. | 2026_SK_SHK_010002200077_Bab-2.pdf | 29 |
|
| 10. | 2026_SK_SHK_010002200077_Bab-3.pdf | 12 |
|
| 11. | 2026_SK_SHK_010002200077_Bab-4.pdf | 48 |
|
| 12. | 2026_SK_SHK_010002200077_Bab-5.pdf | 3 | |
| 13. | 2026_SK_SHK_010002200077_Daftar-Pustaka.pdf | 4 | |
| 14. | 2026_SK_SHK_010002200077_Lampiran.pdf | 1 |
|
K Kepailitan merupakan instrumen hukum yang memberikan kepastian hukum dalam penyelesaian utang-piutang antara debitor dan kreditor. indonesia dan malaysia memiliki sistem hukum yang berbeda, yaitu civil law dan common law, sehingga mekanisme penyelesaian perkara kepailitan di kedua negara juga berbeda.penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan penyelesaian perkara kepailitan di indonesia dan malaysia serta membandingkan persamaan, perbedaan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing sistem. penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan tipe penelitian perbandingan hukum yang bersifat deskriptif. data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, buku, jurnal ilmiah, dan putusan pengadilan, antara lain undang-undang nomor 37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, insolvency act 1967, putusan mahkamah agung nomor 65 pk/pdt.sus-pailit/2023, serta putusan affin bank berhad v. abu bakar bin ismail.hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kepailitan indonesia menitikberatkan pada kepastian hukum melalui pengaturan tertulis dan mekanisme pkpu sebagai sarana restrukturisasi utang. sementara itu, malaysia menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menentukan status kepailitan, adanya tahapan bankruptcy notice, serta berorientasi pada rehabilitasi debitor, yang menjadi kelebihan prosedur di malaysia. meskipun kedua negara sama-sama bertujuan melindungi kreditor dan debitor, terdapat perbedaan dalam prosedur dan mekanisme penyelesaian perkara. oleh karena itu, indonesia dapat mengadopsi beberapa kelebihan konsep penyelamatan usaha sebagaimana disebutkan di atas guna meningkatkan efektivitas penyelesaian perkara kepailitan tanpa mengurangi kepastian hukum.
B Bankruptcy is a legal instrument that provides legal certainty in the settlement of debts between debtors and creditors. indonesia and malaysia have different legal systems, namely the civil law system and the common law system, resulting in different mechanisms for resolving bankruptcy cases in each country.this study aims to analyze the legal framework governing the settlement of bankruptcy cases in indonesia and malaysia, as well as to compare the similarities, differences, advantages, and disadvantages of each system. this research employs a normative legal research method with a descriptive comparative law approach. the data used are secondary data obtained through library research, including legislation, books, academic journals, and court decisions, namely law number 37 of 2004 concerning bankruptcy and suspension of debt payment obligations, the insolvency act 1967, the supreme court decision number 65 pk/pdt.sus-pailit/2023, and the decision in affin bank berhad v. abu bakar bin ismail.the results of the study indicate that the indonesian bankruptcy system emphasizes legal certainty through statutory regulations and the suspension of debt payment obligations (pkpu) mechanism as a means of debt restructuring. meanwhile, malaysia applies the principle of prudence in determining bankruptcy status, requires the issuance of a bankruptcy notice, and places greater emphasis on debtor rehabilitation, which constitutes one of the strengths of its bankruptcy procedure. although both countries aim to protect the interests of creditors and debtors, they differ in their procedures and mechanisms for resolving bankruptcy cases. therefore, indonesia may adopt several advantages of malaysia’s business rescue concept to enhance the effectiveness of bankruptcy case resolution without compromising legal certainty.